penasaran. berani. logis

Gua Pawon



Berawal dari keinginan untuk menjelajahi lebih banyak lagi goa-goa di Indonesia, kami divisi Caving KMPA ‘G’ ITB yang terdiri dari saya(Yoga), Nurul, Usi, dan Yudha mengadakan perjalanan ke Goa Pawon. Kegiatan kali ini lebih dititikberatkan untuk melatih skill kami dalam memasang rigging di dalam goa. Menurut para pendahulu, Goa Pawon sangat cocok untuk berlatih rigging. Kami berharap setelah perjalanan ini, skill rigging kami bertambah sehingga kemampuan eksplorasi goa kami pun meningkat. Kali ini, anggota G KMPA yang diberi kehormatan untuk ikut menemani kami adalah Affan. Setelah persiapan yang cukup melelahkan akhirnya Tim berangkat dari SEL pada tanggal 27 Juli 2010 pagi.

Selasa pagi, pagi yang sangat cerah saat itu, menambah semangat kami untuk berkegiatan. Tim yang terdiri dari 5 orang telah siap baik fisik, logistik, maupun mental untuk berangkat ke Goa Pawon. Semua telah dipersiapkan dengan matang. Doa telah dipanjatkan, motor telah disiapkan. Namun kami menyadari bahwa tim yang terdiri dari 5 orang tersebut hanya 2 orang yang sanggup mengendarai motor. Mau tak mau harus ada 1 orang yang menggunakan moda transportasi lain, yaitu kereta. Akhirnya diputuskan 3 orang naik motor dan 2 orang naik kereta dari Stasiun Bandung menuju Stasiun Padalarang. Yudha dan Nurul mengalah untuk naik kereta. Rencananya mereka berdua setelah sampai di stasiun melanjutkan perjalanan naik angkot kuning yang ada di Padalarang kemudian berhenti di depan pintu gerbang Goa Pawon. Disana meraka menunggu sejenak untuk kemudian dijemput menggunakan motor menuju Goa Pawon. Jam 8 pagi, tim kereta berangkat terlebih dahulu. Awalnya kami sempat panik, karena menunggu Nurul yang tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Kami tak mau rencana kami jadi berantakan karena terlambat naik kereta. Setelah cukup lama ditunggu, akhirnya Nurul dengan berlari-lari datng ke sel, membuat kami semua lega. Nurul dan Yudha pun langsung bergerak menuju stasiun tanpa upacara keberangkatan terlebih dahulu, padahal saya, Usi, dan Affan sudah menunggu lama. Tapi ya sudah, akhirnya hanya kami bertiga yang berkumpul di depan sel, berdoa, dan meneriakkan, “KMPA, Ganesha!”
Sudah tak sabar kami ingin segera sampai disana. Dengan perut keroncongan karena belum sarapa, kami bertiga melesat secepat kilat dengan motor. Sebelum ke Goa Pawon, kami mampir ke rumah Budi terlebih dahulu. Budi adalah seorang kawan kami yang rumahnya tak jauh dari tebing Citatah 125. Dia ikut sebagai trainer bersama Nda. Sampai disana, Budi langsung kami bawa melesat menuju Goa Pawon. Di Goa Pawon, sejenak kami beristirahat, meregangkan otot-otot kami setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Saya dan Budi kemudian bergerak turun menuju rumah Pak RT ntuk meminta ijin. Setelah berbincang-bincang, kami berdua kembali menuju camp. Tak menunggu lama, kami berempat langsung bergerak ke Goa Pawon. Survey sejenak kita lakukan dan tak diduga, kami bertemu mapala dari IT Telkom, Astacala. Mereka ada 5 orang namun meraka tidak caving, melainkan akan climbing disekitar Goa Pawon.
Selesai mendirikan tenda, ternyata ada 1 masalah lagi yang menghadang. Si Nda, trainer kita, belum datang. Rencananya salah seorang dari kami bergerak untuk menjemput di rumahnya. Tapi ternyata rumahnya cukup jauh. Saat itu pula, pagi yang cerah itu berubah menjadi mendung. Hujan pun tak terhindarkan. Cuaca yang tak mendukung itu membuat kami hanya bias berdiam diri. Latihan tidak dapat kami lakukan karena Nda belum datang. Hujan yang cukup deras juga menghalangi kami untuk rigging karena tidak safety. Menunggu dan menunggu, hujan tak kunjung reda. Tak mau berhenti karena hujan, saya pun menghubungi salah seorang teman Nda, yaitu Depi. Saya berharap Depi dapat mengantar ke rumah Nda. Dengan berhujan-hujan saya sampai di rumah Depi di daerah belakang tebing Citatah 125. Karena satu dan lain hal, jam 4 sore kami berdua baru bisa bergerak menjemput Nda. Cukup jauh memang ternyata rumah Nda. Dengan menyesal, kami baru tiba di Goa Pawon lagi jam 6 sore. Itupun tanpa membawa Nda. Nda baru dapat menemani kami keesokan harinya. Alhasil, kegiatan hari itu berakhir begitu saja, tanpa kegiatan di goa Pawon. Malam harinya, kami hanya melakukan sedikit evaluasi dan briefing untuk keesokan harinya.
Hari kedua kami di Pawon, kami awali dengan beres-beres, cuci-cuci, dan masak. Tugas-tugas itu telah dibagi. Jam 8 pagi kami semua telah selesai makan dan persiapan untuk latihan hari itu. Namun latihan belum dapat dimulai sebelum Nda datang. Tak lama, Nda muncul. Langsung kami bergegas menuju aven Goa Pawon untuk mencoba rigging. Kali ini, saya berkesempatan untuk menjadi leader. Latihan dimulai dengan memasang pengaman-pengaman di sekitar mulut goa dan memasang anchor utama. Cukup lama saya memasang alat-alat tersebut, maklum baru pertama kali mencoba rigging sendiri. Setelah dirasa cukup kuat dan aman, saya turun dengan membawa tali. Sebagai leader, saya harus turun dari mulut goa ke bawah sambil mengulur tali untuk membuat lintasan. Ditengah perjalanan saya menuruni liang goa, saya menemukan pitch. Untuk menghindari friksi tali dengan batu, saya membuat tambatan baru. Semua berjalan lancar hingga saya mencapai dasar goa. Latihan ini membuat saya cukup mengerti cara-cara rigging di dalam goa. Saya mendapat banyak pelajaran dari latihan ini.
Lintasan yang telah selesai saya buat digunakan Nurul untuk turun. Sampai dibawah, Nurul bertugas sebagai cleaner, tugasnya naik kembali ke atas sambil menggulung tali. Ceritanya, setelah Nurul sampai diatas dilanjutkan Yudha dan Usi yang turun sebagai leader dan cleaner. Namun ternyata Nurul membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan tugasnya. Kendalanya adalah karena memang medan goa yang cukup sulit dan baru pertama kali juga, Nurul mencobanya. Berat tali yang harus dibawa pun memperlambat pergerakan Dia. Sore hari sekitar jam 16.30, Nurul berhasil mencapai mulut goa. Hari sudah mulai gelap saat itu. Cuaca pun tiba-tiba saja kembali memburuk. Hujan deras lama mengguyur. Dengan pertimbngan safety, akhirnya diputuskan untuk mengakhiri kegiatan hari itu. Yudha dan Usi yang belum sempat merasakan latihan hari itu, cukup kesal dengan kejadian hari itu. Tanpa basi-basi Usi langsung pergi menuju camp. Hari itu, hanya saya dan Nurul yang latihan.
Malam harinya, evaluasi paling banyak adalah Usi dan Yudha yang belum sempat mencoba latihan. Padahal, esok pagi mereka berdua harus pulang ke Bandung karena ada keperluan. Esok paginya, saya mengantar Usi dan Yudha ke stasiun. Jam 7 saya kembali ke camp Goa Pawon. Hari itu kami habiskan untuk berlatih pemanjatan artificial dan panjat tebing. Sore harinya kami putuskan untuk kembali ke Bandung.

Yoga Saktyanto S
GM-024-XIX
KMPA ’G’ ITB



CATATAN PERJALANAN CAVING DI GUNUNG GUHA

Kamis, 17 Juni 2010
kami memulai perjalanan pada hari ini pada pukul 13.00, bergeser 4 jam dari rencana awal, seharusnya berdasarkan teklap kami telah berangkat semenjak pukul 09.00 tapi dikarenakan ada beberapa persiapan yang belum lengkap seperti adanya beberapa logistik yang belum dibeli dan belum dipackingnya barang-barang yang akan dibawa maka keberangkatan kamipun ditunda. pada hari ini anggota yang berangkat hanya berlima, yaitu Yoga sebagai ketua perjalanan, Usie, Rahman, Bryan, dan saya, Nurul. Pada awalnya kami berencana berangkat berenam tetapi karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan Os tidak jadi ikut ke Gunung Guha.
Setelah dilepas dari SEL pada pukul 13.00 oleh beberapa orang yang ada di SEL, kamipun memulai perjalanan menuju Gunung Guha. Perjalanan menuju Gunung Guha memakan waktu kira-kira 3 jam. Diperjalanan menuju Gunung Guha, kami bertemu dengan Stephan dan Benny yang juga akan ikut dalam perjalanan ini, mereka adalah anak MAPALA MARANATHA dan dalam perjalanan ini kami juga singgah sebentar di Citatah untuk menjemput Nda dan istrinya beserta Budi. Setelah itu, kami melanjutkan kembali perjalanan menuju Gunung Guha. Sekitar pukul 16.30 kami sampai di Gunung Guha. sebelum menuju ke tempat camp, kami singgah sebentar di rumah pak RT untuk menyerahkan surat izin dan setelah itu, kami juga singgah sebentar di rumah pak Ade, penduduk yang akan mengantarkan kami ke goa-goa yang ada di Gunung Guha. setelah itu, kami langsung bergerak ke camp yang letaknya sangat dekat dengan tempat pertambangan. Kami sampai di camp tersebut sekitar pukul 17.00 dan langsung bergerak mendirikan tenda dan mencari kayu untuk membuat api unggun. Sekitar pukul 19.00 tenda dan api unggun telah jadi dan kamipun memulai masak makan malam. Sekitar pukul 20.00 makanan telah siap dihidangkan dan kamipun memulai makan malam. Menu makan malam kami hari ini adalah ayam bakar dan sayur kangkung.
Setelah makan malam, kami duduk bersama didepan api unggun sambil bercengkrama.setelah itu, kami juga mengevaluasi perjalanan pada hari ini, beberapa hal yang dievaluasi diantaranya yaitu waktu keberangkatan yang sangat ngaret, logistik yang ketinggalan dan packing yang lumayan memakan waktu. Selain itu, kami juga briefing untuk persiapan di keesokan harinya. Setelah briefing dan evaluasi, sekitar pukul 23.00 kamipun tidur agar keesokan harinya dapat bergerak cepat
Jumat, 18 Juni 2010

Hari kedua kami berencana bangun pukul 05.00 tetapi pada kenyataannya hanya beberapa orang yang bangun tepat waktu sehingga pergerakan pada hari ini sedikit terlambat. Setelah bangun, kamipun mulai memasak sarapan. Sekitar pukul 07.00 kami sarapan dan kemudian mempersiapkan alat-alat yang akan digunakan dalam pemetaan dan pendataan. Setelah itu, sekitar pukul 08.00 kami telah mempersiapkan semuanya dan berencana memulai pendataan dan pemetaan pada hari itu. Tetapi karena pak ade tidak dapat datang pada hari itu, kegiatan kami pun tertunda beberapa saat, sehingga kami baru memulai kegiatan sekitar pukul 09.30. sebelumnya kami telah berencana membagi anggota ke dalam dua tim, satu tim pendataan dan satu lagi team pemetaan. Karena pak Ade, penduduk yang akan menunjukkan letak goanya tidak dapat hadir pada hari ini, team pendataanpun tidak bergerak pada pagi harinya. Sedangkan team pemetaan langsung melakukan kegiatan dengan memetakan sebuah goa yang berada disekitar camp kami. Stephan dan Benny juga ikut denagn team pemetaan karena mereka akan mengambil gambar keadaan dalam goa. Setelah melakukan pemetaan sekitar satu jam, kami beristirahat sebentar. Pemetaan hanya dilakukan sebentar karena goa yang dipetakan tergolong pendek, hanya 30 meter. Setelah itu, kami, team pemetaan beranjak untuk mencari goa disekitar camp, tetapi kami tidak menemukan apa-apa.
Setelah sekitar 2 jam mencari goa disekitar daerah itu, kami mendapat informasi dari team pendataan bahwa mereka menemukan goa. Kamipun beranjak kesana untuk melihat goa tersebut, ternyata goa itu termasuk goa yang pendek sehingga kami tidak memetakan goa tersebut. Setelah melihat goa tersebut, kamipun kembali ke camp. Kami sampai di camp sekitar pukul 15.00. sesampainya di camp kami beristirahat. Sementara itu, beberapa orang memasak untuk makan malam, sekitar pukul 18.00 kami makan malam. Setelah itu, kami berkumpul lagi didepan api unggun untuk membahas briefing untuk kegiatan keesokan harinya dan juga membahas evaluasi mengenai kegiatan pada hari ini. mengenai briefing untuk keesokan harinya kami berencana untuk langsung memetakan goa walet, goa yang telah kami ketahui dari survey, karena kami khawatir pak Ade tidak dapat hadir pada keesokan harinya.
Beberapa hal yang dievaluasi pada hari kedua yaitu : hal yang paling disoroti adalah kami tidak mempersiapkan plan B atau rencana lain apabila pak ade tidak dapat mengantarkan kami ke goa. Alhasil, pergerakkan kedua team pada hari ini terhambat dan teklap pada hari ini menjadi kacau. Selain itu, manajemen gerak juga dievaluasi, sebaiknya setiap team memilih seorang dalam team untuk menjadi koordinator pergerakan. Hal lain yang dievaluasi yaitu waktu makan siang sebaiknya target waktu bukan target tempat. Itulah kira-kira hal yang dievaluasi pada hari kedua. Setelah evaluasi kamipun masuk ke dalam tenda untuk beristirahat agar di hari selanjutnya pergerakan dapat dimaksimalkan.
Sabtu, 19 juni 2010
Hari ketiga, kegiatan di mulai sekitar pukul 6 pagi. Setelah benar-benar bangun, kami mulai memasak sarapan, dan beberapa dari kami ada yang menyiapkan alat-alat yang akan digunakan untuk kegiatan pemetaan dan pendataan hari itu. Sekitar pukul 8 pagi, kami telah selesai sarapan dan menyiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan dan siap untuk memulai kegiatan. Dalam kegiatan pada hari ini kami dapat mendata 5 goa yaitu: goa G6, goa gelatik, goa sikendi, goa pertigaan, dan goa G8. Namun dari 5 goa tersebut yang kami petakan hanya 2 goa saja, yaitu goa sikendi dan goa G8. Ini dikarenakan kondisi goa yang tidak memungkinkan untuk dipetakan, sebagian besar dari goa-goa tersebut telah runtuh akibat kegiatan pertambangan yang ada di sekitar lokasi dimana goa berada. Kegiatan hari ini berjalan cukup lancar dan menemukan banyak goa karena ada warga desa setempat yang menggantikan pak ade menemani mencari goa.
Sekitar pukul 4 sore kami selesai melakukan pendataan dan pemetaan, dan kembali ke camp untuk beristirahat. Sementara itu beberapa orang dari kami memasak makan malam, sekitar pukul 7 kami makan malam. Setelah itu kami berkumpul di sekitar api unggun untuk melakukan briefing kegiatan esok hari dan mengevaluasi kegiatan hari ini. Setelah evaluasi kamipun beranjak masuk ke dalam tenda untuk beristirahat agar fit untuk melakukan kegiatan esok harinya.
Minggu, 20 juni 2010
Hari keempat, sekitar pukul 6 pagi kami memulai kegiatan hari ini, memasak untuk sarapan, menyiapkan alat-alat yang akan digunakan untuk pemetaan dan pendataan nantinya. Setelah semuanya selesai, sekitar pukul 8 kami mulai mobilisasi menuju goa wallet untuk memulai pemetaan dan pendataan. Kegiatan hari ini difokuskan hanya pada satu goa saja, yaitu goa walet. Hal ini dikarenakan mobilisasi dari basecamp menuju goa walet memakan waktu yang cukup lama, selain itu, letak goa walet yang berada di atas tebing juga menjadi salah satu factor lamanya pendataan dan pemetaan pada goa walet.
Sekitar pukul 10 kami sampai di goa walet, dan langsung melakukan instalasi alat untuk mencapai mulut goa yang berada di atas tebing dengan ketinggian sekitar 15 meter. Setelah selesai instalasi kami beristirahat untuk makan siang dan setelah itu, sejam kemudian satu per satu dati tim pemetaan mulai manjat menuju mulut goa satu jam kemudia, sekitar pukul dua siang tim memulai pemetaan goa walet. Pemetaan goa walet memakan waktu kurang lebih 2 jam 30 menit, namun pemetaan yang dilakukan tidak pada seluruh bagian goa hal ini dikarenakan batasan waktu yang telah ditetapkan sebelumnya, yaitu sebelum pukul 5 sore tim sudah harus keluar dari dalam goa. Setelah semua anggota tm pemetaan turun dari mulut goa walet, alat-alat pun di’cleaning’ dari tebing. Sekitar pukul 19.00 kami kembali ke basecamp, dan beristirahat sejenak. Setelah itu kami berkumpul di sekitar api unggun untuk makan malam dan evaluasi kegiatan hari ini serta briefing untuk kegiatan hari esoknya. Pukul 22.00 kami beranjak ke tenda untuk beristirahat.

Senin, 21 juni 2010




Hari kelima, sesuai dengan briefing pada malam sebelumya, kami bangun pukul 5 pagi. Beberapa dari kami yang sudah bangun terlebih dahulu langsung berinisiatif untuk memasak sarapan dan menyiapkan alat-alat yang akan digunakan untuk pemetaan dan pendataan goa hari ini. Pukul 8.00 semua talah siap untuk memulai kegiatan pendataan dan pemetaan hari ini. Dalam kegiatan hari ini goa yang didata sebanyak empat goa, yaitu goa macan, goa pacet, dan goa kasir. Namu goa yang dipetakan pada kegiatan hari ini hanya dua goa saja yaitu goa macan dan goa kasir. Pada kegiatan hari ini, untuk kegiatan pendataannya kami mendapat bantuan dari pak hasan, warga desa setempat. Pak hasan membantu kami menunjukan lokasi goa-goa tersebut. Lokasi dari goa-goa tersebut cukup sulit di jangkau jika tidak ditemani oleh orang-orang yang benar-benar tahu lokasi tepatnya. Untuk goa pacet dan cibiru berada di sekitar puncak dari gunung guha.
Setelah melakukan pendataan dan pemetaan selama hamper 9 jam, pukul 16.30 kami kembali ke basecamp. Beristirahat sejenak, kemudian beberapa menyiapkan makan malam dan beberapa membereskan alat-alat yang tadi digunakan agar tidak tercecer dan gampang dicari esok paginya. Sekitar pukul 22.00, setelah selesai makan malam dan evaluasi serta briefing untuk kegiatan esok harinya kami masuk tenda untuk beristirahat setelah cukup lelah dengan kegiatan hari ini.
Selasa, 22 juni 2010
Hari keenam, seperti hari-hari sebelumnya. Kami bangun pukul 5.00, namun setengah jam kemudian baru benar-benar bangun dan memulai aktifitas. Hari ini, hari terakhir untuk saya dan rahman karena kami berdua harus kembali ke bandung untuk menemui orang tua masing-masing yang sedang berkunjung. Setelah sarapan dan menyiapkan perlengkapan pendataan dan pemetaan, kami memulai kegiatan sekitar pukul 8.00, sesuai dengan hasil briefing dan teklap yang sebelumnya sudah dibuat. Pada hari ini goa yang berhasil didata adalah tiga goa, yaitu goa G31, goa G32, dan goa saliwangsa. Dari ketiga goa tersebut tidak satupun yang dapat dipetakan, karena tidak masuk dalam criteria goa yang dapat dipetakan. Ketiga goa tersebut berada di atas tebing dan bentukannya berupa crack dengan ornament-ornamen yang telah mati(kering). Kegitan hari ini selesai lebih cepat dari hari-hari sebelumnya, ini dikarenakan ada dua orang anggota tim yang harus pulang terlebih dahulu( saya dan rahman). Kegiatan hari ini selesai sekitar pukul 15.30. Setelah beristirahat dan makan malam, pukul 19.00 dua orang angota tim tersebut kembali ke bandung(SEL), dan sampai tujuan sekitar pukul 21.00. sementara itu anggota tim yang lain, seperti biasa setelah makan malam berkumpul mengelilingi api unggun dan mengevaluasi kegiatan hari ini serta briefing untuk kegiatan esok harinya.
Rabu, 23 juni 2010
Hari ketujuh, hari terakhir tim melakukan pendataan dan pemetaan goa di daerah gunung guha, cianjur, jawa barat. Sesuai dengan hasil briefing malam sebelumnya, hari ini tim yang masi tersisa akan kembali ke bandung. Karena akan kembali ke bandung, tim menjadi sedikit lebih santai. Setelah sarapan, sekitar pukul 8 pagi, tim mem’packing’ semua alat-alat dan bersiap untuk kembali ke SEL. Namun sebelumnya mereka tidak lupa mampir ke desa untuk berpamitan dan berterima kasih pada pak ade dan pak hasan karena telah membantu kami melakukan pendataan dan pemetaan goa selama seminggu berada di gunung guha. Selain itu mereka juga berpamitan pada pak RT setempat untuk melapurkan bahwa kegiatan kami telah usai dan akan kembali ke bandung. Sekitar pukul 11 siang mereka kembali ke SEL dan sampai di SEL sekitar pukul satu siang.

Trip Gombong

CATATAN PERJALANAN CAVING DI GOMBONG

Jumat, 26 Maret 2010, kira-kira pukul 10 malam, kita, anak-anak caving yang berjumlah 6 orang ( usie, os, yudha,yoga,muhsin dan nurul) mengadakan perjalanan ke Jawa Tengah, lebih tepatnya kabupaten Gombong, lebih tepatnya lagi kecamatan Ayah. Tujuan kita mengadakan acara ini tak lain dan tak bukan adalah melihat dan lebih mengenal goa. Di kecamatan Ayah ini kita udah masuk ke dalam 2 goa yang cukup terkenal, yaitu goa jemblongan dan goa macan.

Buat pergi ke kecamatan Ayah, butuh waktu kira-kira 8 jam, 7 jam dikereta dari stasiun kiara condong ke stasiun gombong, dan 1 jam nya lagi pakai bis dari gombong ke kecamatan ayah. Kita berangkat dari Bandung jam 10 malem, nyampe di kecamatan ayah kira-kira jam 6 pagi. Cukup menyiksa buat pantat gw yang makin lama makin menipis.hehe. di desa ayah, kita menumpang tinggal di rumah pak RT selama lebih kurang 2 hari 1 malem. Nyampe di desa ayah, kita langsung dihidangkan sarapan, padahal di jalan tadi juga udah sarapan, tapi nggak apa apa, hitung-hitung tambah energi. Hehe. Setelah istirahat dan nyiapin barang-barang buat masuk ke goa sekitar 2 jam, kita berangkat ke goa macan.

Di goa ini, rencananya kita mau SRT-an, karena dari kabar yang kita dengar di goa ini ada goa vertikalnya, panjangnya kira-kira 50 m. Tetapi karena ada satu tragedi yang sama-sama tidak kita inginkan, SRT tidak jadi dilaksanakan. Tapi, ada satu hal yang sangat menarik di dalam goa ini. Ada aula yang gede banget, terus sekitar 50 meter ke bawah ada sungai yang ngalir deres banget. Menurut cerita orang yang pernah ngeliat langsung, dibawah juga ada danaunya. Katanya juga sih, pernah ada yang diving di danau itu. Tapi sayang banget, kita belum bisa liat danaunya, kerena ga jadi SRT. Gw pribadi juga cukup kecewa sih, tapi gak apa apa, ini justru jadi motivasi gw buat balik ke goa itu lagi, buat SRT-an dan ngeliat langsung danaunya.

Setelah beresin alat-alat buat instalasi, Kita keluar dari goa macan, kira-kira pukul 3 siang. Setelah itu, kita istirahat beberapa menit di pondok deket goa sambil ngeliat pemandangan sekitar kota gombong. Abis itu, kita balik ke rumahnya pak RT. Kita langsung mandi dan bersih-bersih alat. Sekitar jam 6 sore, kita makan malam. Nah, abis makan malam kita ngobrol-ngobrol. Yah, sedikit ngegosiplah. Haha. Dan disela-sela gosip, Yoga juga ngeluarin kata-kata “alay”-nya. Ini yang bikin heboh. Haha. Tapi gw juga jadi ketularan dan sering sering ngucapin kata-kata alay, seperti “chups” yang kata Yoga artinya cupu. Hahaha. Emang alay tuh anak. Well, hari ini seru lah.

Hari kedua, kita udah berencana masuk ke goa jemblongan yang kata Yudha yang udah pernah survey kesini didalamnya bagus banget. Buat mencapai goa ini kita harus jalan sekitar 1 km, dengan tanjakan yang lumayan menyiksa. Bener aja kata Yudha, Ini bukan goa horizontal biasa, didalamnya ada sungai yang bagus banget. Gw baru pertama kali ngeliat sungai yang bener-bener gak ada sampahnya kayak gitu. Pokoknya kerenlah. Di dalm goa ini, banyak hal-hal wah yang gak kepikiran sebelumnya.
Pas pertama kali ngeliat sungainya, gw gak berasa ada di dalam goa. Gw baru tahu kalo ada goa yang sekeren itu.Stalagtitnya juga masih banyak yang hidup, jadi kita harus jalan super hati-hati biar nggak nyentuh apalagi ngerusak ornamen-ornamen yang ada. Ornamen yang paling gw inget itu adalah batu yang kegantung dan ngeluarin air, kayak shower gitu deh. Itu keren banget. Selain itu juga ada bagian yang kita harus masuk ke dalamnya dengan posisi tiarap, karena sempit dan diatasnya banyak stalagtit yang menggantung. Nah, ternyata goa ini berakhirnya di goa wisata, yaitu goa petruk. Disebut goa petruk gara-gara ada batu yang menyerupai petruk didalamnya. Juga ada yang semar didalamnya.


Dari goa petruk, kita jalan balik ke rumah pak RT, sebenernya gak begitu jauh sih, cuma sekitar 2 km.

Tapi karen cuaca yang lumayan panas, perjalanan terasa sangat melelahkan. Setelah jalan sekitar 1 jam, kita pun sampai di rumah pak RT dan langsung packing dan bersih-bersih, kerana takut ketinggalan kereta. Gak lupa sebelum berangkat kita makan siang dulu. Hehe.

Sekitar jam 2 siang kita udah berada di stasiun gombong lagi. Di stasiun, kita juga ketemu sama anak-anak pecinta alam dari stt telkom “ASTACALA”. Perjalanan pulang terasa lebih lama, kita berada dikereta sekitar 8 jam . Sesampainya di bandung waktu telah menunjukkan pukul 11 malam. Untungnya, papa Usie nganterin kita sampai ke ITB, jadi kita nggak perlu ribet-ribet naik angkot.


Perjalanan ke Gombong kali ini sangat seru, ngebuat kita jadi lebih tertarik dan penasaran sama yang namanya goa. Karena banyak hal-hal yang nggak kita duga ada di dalam goa.

Trip Gombong

CATATAN PERJALANAN CAVING KE GOMBONG
oleh : Yoga S. Sisminardi (GM-024-XIX)
Penasaran, Berani, Logis

“KMPA!!!…GANESHA...!!” teriakan pertama kami dari "SEL KMPA" ketika akan berangkat menuju Gombong, Jawa Tengah. Tim kali ini terdiri dari 6 orang yakni sang ketua rombongan Mukhsin, gw(yoga), kadiv caving kami, Os, Yudha si sawit, si anak kecil, usi, dan nurul, si pemakan segala.hehehe.....
gw, usi, yudha, dan nurul adalah anggota muda divisi caving. Sebenarnya ada satu orang lagi bernama bimo. Namun dia urung berangkat karena masalah perizinan dan birokrasi yang ribet.

AWAL MULA
Mungkin saat kita mendengar kata Gombong, yang terlintas di benak kita adalah suatu daerah antah berantah yang tidak jelas dan jauh dari peradaban. Tapi ternyata Gombong menyimpan seribu rahasia yang patut dikuak khususnya oleh para caver sejati.
Berawal dari ajakan saudara kita dari ASTACALA, kami tertarik untuk membuka tabir gelap yang menutupi misteri gua di Gombong. Pada saat itu, kebetulan astacala akan mengadakan diklat caving untuk para anggota muda mereka. Entah mendapat wangsit darimana, mereka kemudian mengajak seorang Mukhsin untuk ikut rombongan mereka. Dengan penuh semangat, Mukhsin mengajak anggota caving baru untuk ikut serta. Maklum, baru kali ini cavers muda KMPA berjumlah 5 orang. Tentu saja, dengan senang hati kami mengangguk-anggukkan kepala tanda sepakat. Akhirnya diputuskan tanggal 19 Maret kami semua berangkat bareng astacala. Semua persiapan menuju spot dipersiapkan matang-matang. Namun, menjelang keberangkatan, kami mendapat berita bahwa astacala tidak bisa membawa serta kami semua karena terlalu banyak orang yang ikut. Astacal sendiri telah membwa anggota muda yang cukup banayk. Akhirnya rencana pun diubah. Hanya Mukhsin dan Yudha yang berangkat bersama mereka. Rencana yang dipersiapkan, mereka berdua ikut untuk survey dan kemudian minggu depan barulah kita berangkat sendiri.

GOMBONG TRIP
Akhirnya, saat yang kita tunggu-tunggu tiba juga. Jumat, 26 Maret 2010 kira-kira jam 9 malam tim berangkat menuju Gombong. Agar tidak kehabisan tiket kereta api, gw berangkat lebih dulu untuk membeli tiket. Menunggangi "belalang tempur" milik om Sigit dengan diantar Rachman, langsung menuju stasiun Kiaracondong. Cukup heran, ternyata "belalang tempur" itu sangat tangguh untuk melintasi jalanan kota Bandung yang penuh "jebakan". Tak lama kemudian, kawan-kawan yang lain menyusul dan kami pun bertolak menuju gombong sekitar jam 10 malam.
Pukul setengah 6 pagi kami turun dari kereta di stasiun Gombong. Setelah beberapa saat melepas penat, kami melanjutkan perjalanan ke kantor PERHUTANI di Gombong untuk mengambil surat ijin. Kemudian kami mencari sesuap nasi untuk mengisi perut kami yang kosong. Lokasi gua tepatnya terletak di kecamatan Ayah. Untuk menuju kesana, kami menggunakan moda transportasi bernama bis selama kurang lebih 1 jam perjalanan. Sampai di Ayah, perjalanan masih cukup terjal, dalam arti sebenarnya. Turun dari bis, kami harus berjalan kaki menuju rumah pak RT, Pak Saji. Jalan berbatu dan terjal harus kami tempuh. Perjuangan yang cukup melelahkan. Untungnya, sampai disana kami langsung disuguhi minuman pelepas dahaga berupa teh dan beberapa jajanan. Setelah beristirahat sejenak, kami langsung mempersiapkan perbekalan dan alat-alat untuk explorasi gua macan. Gua ini, menurut pak Saji cukup terkenal dan sering dikunjungi oleh caver-caver dari seluruh penjuru Indonesia. Membuat kami semakin penasaran seperti apa rupa gua vertical ini. Setelah semua siap dan briefing sejenak, kami diantar oleh pak Saji menuju gua.

MACAN CAVE EXPLORATION
Mulut gua ternyata cukupm sempit sehingga kami harus berjalan jongkok untuk bisa masuk. Sekitar 5 meter ke dalam, chamber gua cukup luas. Dengan leluasa kami menyusuri gua tersebut. Tidak ada hal yang menarik dari dalam gua ini karena gua ini sudah mati aliran airnya. Ornamen-ornamen yang ada tergolong biasa-biasa saja. Hanya di beberapa tempat kami temukan ornamen yang cukup indah yang sempat diabadikan oleh si anak kecil, usi. Sampai pada akhirnya kami sampai pada salah satu bagian gua yang paling indah. Di tempat ini, gua menemukan ujungnya.
Aula yang sangat besar membuat kami takjub. Lebih hebat lagi, dibawah aula yang besar itu, terdapat lubang yang besar dan memiliki kedalaman kira-kira 50 meter ke bawah. Suara gemericik air sungai terdengar jelas di telinga kami dari dalam lubang itu. Menurut cerita, selain sungai, di bawah sana juga terdapat semacam danau. Kabarnya pula, sudah pernah ada orang dengan perlengkapan diving yang lengkap menelusuri gua berair tersebut. Semakin bertambahlah keinginan kami untuk menelusur ke bawah. Namun karena tidak memungkinkan untuk memasang anchor di tempat itu, kami melanjutkan penelusuran untuk mencari tempat yang lebih safety. Tak lama, Mukhsin menemukan tempat yang pas untuk SRT turun ke bawah. Segeralah Muhsin dan Os memasang peralatan-peralatan yang dibutuhkan untuk memasang anchor. Aku pun membantu dari jauh prosesi pemasangan anchor. Setelah lama mencoba untuk membuat anchor, akhirnya semua siap. Os mendapat kehormatan untuk menjadi orang pertama yang turun ke bawah.


THE TRAGEDY
Ternyata, memang pengalaman adalah guru yang terbaik. Pengalaman dan jam terbang yang kurang, hampir menyebabkan jatuh korban. Os yang baru beberapa meter turun ke bawah mendadak berteriak. Suara seperti ada sesuatu yang pecah membuat aku terbangun dari tidurku. Dalam kekhawatiran takut terjadi apa-apa, aku menerka-nerka, apa yang terjadi. Ternyata batu yang digunakan untuk memasang anchor pecah. Untung masih ada back-up sehingga Os tidak terjun bebas ke dalam lubang yang gelap itu.


Dengan tenang Mukhsin memberiakn instruksi-instruksi kepada Os untuk naik kembali. Akhirnya, dengan kerja keras Mukhsin dan Os, Os dapat kembali naik ke permukaan. Sungguh saat-saat yang sangat mencekam. Untunglah, semua selamat. Dalam situasi seperti itu, Mukhsin memutuskan untuk menghentikan explorasi hari itu. Diakuinya, mentalnya sudah tidak cukup kuat untuk melanjutkan SRT. Kecewa, memang. Tapi begitulah keadaannya. Justru kejadian tersebut menguatkan motivasi kami untuk kembali ke gua itu dengan membawa skill yang mumpuni agar penelusuran berikutnya bisa lebih optimal. Sambil menenangkan hati dan pikiran, kami beranjak pulang menuju rumah pak Saji. Sampai disana kami membereskan peralatan dan segera beranjak tidur untuk menyimpan energi buat esok hari. Dalam pikirku, ah, tak apalah hari ini kami gagal SRT di gua macan. Masih ada hari esok untuk explorasi gua lain yang tak kalah menarik. Toh, dari kejadian hari pertama, kami belajar banyak.


SECOND DAY IN GOMBONG

Pagi hari yang cerah membangunkan tidur kami yang nyenyak. Segera aku membersihkan muka dan bersiap sholat subuh. Baru membayangkan makan enak pagi itu, eh ternyata di meja telah tersaji makanan yang telah disiapkan oleh pak Saji. Tanpa kompromi dan basa-basi, langsung kami lahap makanan yang ada di meja. Terutama Nurul, si anak Padang, makan dengan hebatnya. Di angkatan KMPA XIX ini, Nurul memang terkenal karena nafsu makannya yang luar biasa. Puas dengan sarapannya, kami tak sabar untuk segera bersiap menuju penelusuran gua berikutnya. Semua persiapan berjalan dengan baik, segera pak Saji ikut mengantar kami ke gua Jomblang.
Menurut beliau, jika ditelusuri hingga ujung, gua ini akan tembus ke gua pariwisata yaitu gua petruk.
Pak Saji hanya bisa mengantar kami hingga mulut gua saja karena beliau harus mengantarkan anaknya ke terminal karena hendak pulang ke Sumatra. Perjalanan di hari kedua ini ternyata cukup dapat mengobati rasa kecewa kami di hari pertama. Semakin dalam kami telusuri, semakin banyak keindahan yang tersingkap. Kami pun semakin menikmati explorasi kali ini karena gua kali ini berair.


Jadilah kami berenang-renang sambil menikmati keindahan ornamen-ornamen yang seperti ingin menunjukkan kemolekannya pada mata kami. Rasa syukur langsung terucap dari dalam hatiku saat itu. Subhanallah, Maha Besar Allah denga segala ciptaannya. Tak ingin hanya bermain-main saja, kami saat itu juga sempat mencoba mempelajari teknik-teknik fotografi di gua. Cukup sulit membuat foto yang indah di dalam gua mengingat cahaya dalam gua yang sangat minim. Tak lupa pula kami foto-foto bersama untuk mengabadikan momen-momen indah saat itu. Setelah dirasa cukup dan karena memang waktu sudah mepet, kami melanjutkan penelusuran hingga akhirnya, benar kata pak Saji, kami keluar di gua petruk. Mengingat keesokan harinya kami harus melanjutkan kehidupan di ITB, kami tak ingin ketinggalan kereta. Setelah berpamitan dan berfoto dengan pak Saji dan ibu, segera kami pulang menuju peradaban dan kembali ke rutinitas sehari-hari. . . . .

Penasaran, Berani, Logis
Bandung, 24 April 2010

Pemetaan Cikaracah

Catatan Perjalanan ke Goa Cikaracak, Padalarang
20-21 Maret 2010

Oleh: Usie Fauzia A. (GM-022-XIX)


Perjalanan ini dilakukan karena sebenarnya kami benar-benar ngebet ingin caving dan rencana awal ke Gombong tidak jadi karena dua orang teman kami, Muhsin dan Aji, ada ujian, maka muncullah ide untuk caving di Padalarang. Rencana ini benar-benar mendadak, bahkan pada malam tanggal 19 Maret belum ada kepastian pergi ke Padalarang. Akhirnya saya inisiatif menanyakan anak-anak caving GL XIX untuk melakukan perjalanan ini dan ternyata kepastian yang ikut caving kali ini baru muncul jam dua siang hari-H (tanggal 20 Maret tepatnya hari Sabtu). Sekitar jam setengah lima sore saya baru sampai di sel (janji kumpul sebenarnya jam tiga sore). Jam enam sore saya, Yoga, Yudha, Bimo, Muhsin, dan Aji berkumpul di sel untuk membicarakan teknis lapangan dan logistik (waw baru dibicarain sekarang…?) dan akhirnya perjalanan caving sekarang kami akan memetakan Goa Cikaracak.


Sekitar jam delapan malam kami (saya, Yoga, Yudha, dan Muhsin) berangkat dari sel menuju Padalarang, tapi sebelumnya mampir ke swalayan dulu untuk beli makanan. Haha pelajaran pertama buat kami, GL baru khususnya, jangan buat teklap pas hari-H. Gara-gara mendadak kami cukup kerepotan dengan duit untuk beli bahan makanan (padahal bahan makanan kaya beras, garam, dan teman-temannya bisa didapat gratis dari rumah saya) dan tiba-tiba Yudha sadar bahwa kami lupa bawa tenda (sebenarnya tenda sudah disiapkan sama Bimo tapi lupa dimasukin ke kerir haha..). Parah, dengan modal nekat dan keyakinan bahwa malam ini tidak hujan, kami benar-benar berangkat ke Padalarang dengan menggunakan motor.

Jam 10-an kami sampai di basecamp, masih termasuk karst citatah, kebon dengan batu-batu kapur raksasa. Disanalah kami bakar-bakaran ayam (untung cuma berempat haha) dan tidur beralaskan ponco beratapkan langit karena kami lupa bawa tenda. Hari Minggu tanggal 21 Maret 2010, kami bangun pukul 06.00. Setelah solat dan ritual pagi Muhsin, kami mulai masak dengan menu nasi goreng dan martabak mi (untung cuma berempat jadi jatahnya banyak). Langsung go chao ke rumah si ibu(saya ga tau namanya map) buat siapian alat-alat dan pake coverall. Yah karena persiapan yang tidak matang, coverall yang ukurannya kecil tidak terbawa jadi saya pakai yang ukurannya kebesaran untuk badan saya. Berangkatlah kita ke Goa Cikaracak, yah bersakit-sakit dahulu lah untuk mencapai ke sana harus jalan kaki yang lumayan jauh apalagi sepatu boot saya kebesaran dan itu tidak nyaman bagi saya (dilemma berbadan kecil). Untuk mencapai ke mulut goa, kami harus turun kebon karena lokasi goa nya di bawah dan di sela-sela kebon.


Sebelum masuk, kami diberi materi oleh Saudara Muhsin, ternyata pemetaan yang akan kami lakukan sekarang tidak semudah pemetaan yang pernah dilakukan di Goa Lalay pada jaman Diksar GM dulu. Kami diajarkan memetakan aula juga. Untuk pemetaan kali ini, saya berperan sebagai descriptor, Yoga dan Yudha sebagai shooter dan stasioner (mereka sering tukeran peran). Sulit juga yah jadi descriptor, berhubung saya suka bengong dan bingung, saya sering ketinggalan data karena Yoga dan Yudha cepat sekali memetakannya. Kami tergolong lama memetakan goa nya, belum seluruh bagian goa kami petakan. Kami hanya memetakan sampai aula pertama karena ternyata butuh adaptasi untuk memetakan goa hingga lancar, juga butuh kerjasama dan konsentrasi juga buat saya, berhubung suasana goa bikin saya ngantuk dan gampang bengong.
Tidak terlalu sulit untuk memasuki goa ini, hanya beberapa turunan dan langit-langit goa nya yang lumayan rendah jadi kami harus berjalan jongkok hingga bertemu ornament besar kemudian turun ke aula, keadaan goa nya tidak basah, hanya tanah yang berlumpur membuat kami sulit berjalan dan boot saya sering copot karena sulit diangkat dan kaki saya yang terlalu kecil. Karena pemetaan dia aula lama sekali, saya pun menikmati mengambil foto ornament-ornamen goa saya masih belum menemukan flowstone yang menarik, hanya terdapat ornament-ornamen yang bentuknya menyerupai hewan-hewan.

Setelah selesai memetakan aula, kami pun makan siang di sana dan karena sudah jam dua siang kami pun menyudahi pemetaan sampai di sini saja. Waw ternyata lama juga kami di dalam goa dan seperti biasa cahaya matahari tidak pernah jadi begitu dirindukan kecuali oleh kami, para penelusur goa. Yeah day light…!
Setelah keluar dari goa, kami bergegas kembali ke rumah si ibu karena cuaca mendung dan gerimis. Sekitar jam tiga sore kami pergi ke daerah dekat Sungai Citarum, tapi ternyata waduknya jebol dan kami tidak jadi main ke sana, akhirnya kami memang harus balik ke kampus dan sekitar jam setengah tujuh malam kami sampai di kampus dan langsung menunaikan kewajiban kami yaitu cuci-cuci alat yang penuh dengan lumpur.
Perjalanan yang menyenangkan bagi saya apalagi dengan teman-teman caver yang aneh-aneh sifatnya membuat saya ingin caving lagi diberbagai goa yang pasti diluar ekspektasi saya. SEMANGAT…!

Catatan Perjalanan Latihan Gabungan Susur Gua


Catatan Pejalanan Latihan Gabungan Susur Goa

Tasikmalaya, 30 April – 2 Mei 2010

Oleh: Usie Fauzia A. (GM-022-XIX)

Latihan gabungan caving kali ini diselenggarakan oleh Tasikmalaya Caving Community (TCC).




Pada awalnya cavers GL XIX yang bisa ikut hanya saya dan Yudha, sedangkan Nurul, Yoga, Bimo, dan Aji ada prioritas lain. Nekat memang apalagi bos-bos caving (Muhsin dan Os) tidak bisa ikut juga. Ya sudahlah the show must go on…saya tetap melakukan persiapan, tanya sana-sini tentang latgab tahun lalu, tanya prosedurnya ke panitia karena ternyata tanggal 30 April kami ada UTS jadi kami baru bisa pergi Jumat malam sehabis UTS. Saya terus membujuk teman-teman saya untuk ikut latgab, ternyata Yoga berhasil terhasut oleh saya haha…alhasil dia ikut latgab dan izin dari kadwil di fakultasnya.

Karena kesibukan masing-masing apalagi UTS Fisika membayang-bayangi kami, saya menginstruksikan kepada Yoga dan Yudha untuk menecek alat-alat yang harus dibawa seperti SRT Set dan alat explore goa. Hanya dicek sadja dan kami mulai beres-beres logistik jumat sore sehabis UTS dan rapat, yaah sekitar jam 7 kami baru mulai masukin alat-alat ke kerir. Ternyata Onye alias Rahman ikut latgab dan Pak Muhsin pun ikut juga. Mereka terharu melihat kesungguhan kami (hoek…). Rencana awal kami pergi ke Tasik dengan kereta, ternyata anak Bramatala (mapala Widyatama) ngajak bareng, oh mereka senasib dengan kami harus ujian dulu, kami pun mulai menodong motor anak-anak sel. Motor Ka Aldi, Johan, dan Andi berhasil kami todong. Jam setengah sembilan (telat 30 mnt dari rencana awal) kami berangkat ke Widyatama. Dari Bramatala ada Cacing, Fajar, dan Rizal. Dengan empat motor, kami pun berangkat ke Tasik.

Jam 12 malam kami sampai di Tasik kota dengan selamat walau di perjalanan sopir dan penumpangnya terkantuk-kantuk, apalagi Yoga hampir mencium truk (nyaris). Karena kami tidak tahu sekre TCC, kami berhenti di swalayan Jalan Mitra Batik untuk menunggu panitia. Entah karena capek atau shock hampir mencium truk, Yoga pun tepar. Lumayan lama kami nunggu karena walau panitia telah datang kami tetap harus nunggu satu motor lagi yaitu motor Fajar dan Rizal yang nyasar di warung. Jadi totalnya kami baru sampai di sekre TCC jam 01.00 WIB. Berbincang-bincang sebentar dan kami langsung istirahat di tempat (tidur di ruang itu juga karena males bergerak ke ruang yang disediakan untuk tidur). Kami harus bangun jam limasubuh agar ke lapangan tepat waktu, tapi manusia hanya bisa berencana, anak-anak pada bangun jam 6 pagi. Terima kasih kepada Muhsin, karena kebiasaan menunaikan tugas sucinya dan bau kentutnya dia, saya terbangun jam setengah 6 (hoek…). Setelah solat, saya bantu panitia membangunkan teman-teman jam 6 pagi. Tanpa cuci muka dan sebagainya, setelah bangun mereka langsung manasin motor dan angkut kerir masing-masing. Bersama panitia kami berangkat ke tempat latgab yaitu di Desa Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya. Lumayan jauh, sekitar 2 jam dari Tasik Kota dengan menggunakan motor. Jalan dari jalan raya menuju pedesaan juga sangat ‘off road’ sekali dan lumayan jauh.



Sekitar pukul setengah sembilan pagi kami tiba di rumah penduduk yang dijadikan base camp. Hmm…seperti bukan kawasan karst yang sering terlihat pada umumnya…tidak ada conical hills, jadi sepanjang perjalanan saya menebak-nebak dimana lokasinya karena si conical hills belum muncul juga, ooo ternyata daerah ini termasuk karst tertutup (kata Pa Mucin), tapi terlihat kok banyak batu gamping di sana-sini. Saatnya ganti kostum dan mempersiapkan logistik yang diperlukan seperti srt set dan makanan. Dari base camp ke lokasi goa ternyata sangat jauh sekali (lebay tapi memang benar sih) ditambah dengan jalan yang menanjak dan kostum kita yang panas banget…seperti biasa saya barisan depan karena saya sadar kalau saya di belakang takutnya ketinggalan he…ternyata bukan saya saja yang ngos-ngosan, yang lainnya juga ngos-ngosan (ya iya lah). Sampai di lokasi goa, kami langsung berebut air minum, wow ternyata ramai sekali, ada apa ini? Ooo…pada ngantri mau mencoba srt di goa vertical ini. Sambil menunggu, salah satu panitia ada yang manjat, bukan rock climbing, tapi coconut climbing, ya berburu kelapa muda karena semuanya kehausan dan kebetulan yang empunya ladang kelapa sudah mengizinkan kelapanya di babat oleh panitia (dan juga peserta).

Sebelum kami turun goa, kami ikut latihan srt dulu di pohon karena kami belum mengenal srt intermediate atau deviasi. Anak Bramatala langsung turun goa. Wow ternyata yang latihan srt banyak juga. Kami pun harus mengantri untuk bisa srt di pohon. Tidak hanya mapala yang ikut latgab ini, banyak anak-anak sispala juga yang ikut dan nampaknya mereka belajar dari dasar, dari pengenalan alat sampai srt. Itu yang membuat kami lama menunggu. Saking lamanya kami suruh Onye untuk manjat pohon kelapa dan mengambil beberapa untuk dimakan. Masih kelamaan juga, Yoga dan Mucin sempat tertidur. Akhirnya giliran saya srt, karena sudah sangat lama saya tidak srt-an, memasang alat pun jadi tidak selancar dulu apalagi saat bagian memasang tali dan mengunci autostop (pesan sponsor: rajinlah latihan biar ga gampang lupa). Saya mencoba dua lintasan: polos dan intermediate. Saat di lintasan intermediate, ada panitia yang menginstruksikan sehingga lancar-lancar saja dan jadinya tidak terlalu lama menggantung. Selesai saya maencoba, saatnya giliran Yudha, Yoga, Onye, dan Mucin. Karena sudah jam 12 siang, kami pun inisiatif untuk masak sambil menunggu giliran mereka. Masak seadanya karena bumbu dapur di rumah saya habis huhu, kami pun masak nasi goreng dengan telur yang ga ada rasanya (garam di rumah juga habis). Naas tapi tetap habis karena laper.

Selesai latihan, kami pun pergi ke goa vertikal yang tadi kami datangi pertama kali, oh ternyata masih ngantri, yaah…kami menunggu lagi, tiduran lagi, dan si Yoga pun membaca Brady, buku kimia yang saking tebalnya bisa dijadikan bantal. Kalu diperhatikan, goa vertical ini hanya berupa retakan tanah saja karena tidak ada lanjutan secara horizontal pada dasar gua, dalamnya pun kurang dari 20 meter. Karena bosan menunggu, kami pun mengekor Mucin yang pergi ke lokasi goa lain yang dijadikan tempat ke dua untuk latihan srt. Goa yang ke dua ini pun tipenya sama dengan goa yang pertama karena pada dasarnya ini hanya retakan besar di tanah, mulut goa ini lebih besar dari mulut goa yang pertama. Yaah…kami tetap harus mengantri walau peserta di sini lebih sedikit daripada peserta di goa pertama karena di sini isinya panitia semua…para cavers yang dari mukanya (-__-;) saja sudah ketahuan jago dan peserta-peserta yang sudah expert (lebay). Waa saya jadi merasa paling junior di sini mengingat ini adalah srt pertama saya langsung di lapangan. Di sini kami bertemu lagi dengan anak-anak Bramatala yang entah habis dari mana. Pada saat mau turun, entah karena grogi atau bukan saya jadi lupa apa dulu yang dilakukan buat turun, mengingat selama ini kalau latihan srt di kampus kami naik dulu baru turun, sekarang turun dulu, daripada ketahuan bingung, saya minta bantuan panitia yang bernama Ka Bambang (bukan Bengbeng KMPA). Oo ternyata autostop nya dikunci dulu, lalu pasang jumar, dan buka autostop turun deh. Belum apa-apa saya sudah menjumpai line intermediate, untung masih fresh jadi ga ada masalah. Saya turun sedalam 20 meter. Benar-benar hanya retakan tanah karena tidak ada ornament atau kenampakan goa yang lain. Batuannya basah dan di dasar 20 meter masih ada tanaman, saya tidak perlu menyalakan headlamp karena masih cukup cahaya bagi saya. Setelah sampai dasar, saya naik lagi karena tak ada yang menarik. Lancar-lancar saja hingga saya keluar dari mulut goa. Wuih lumayan deh tapi ga capek-capek banget. Saatnya giliran Yoga, Yudha, Onye, Cacing, dan Fajar.

Hingga saat magrib, tinggal Yudha dan Cacing yang belum kebagian turun. Lumayan memakan waktu yang lama juga. Naas bagi Yudha, pada saat dia turun, panitia menawarkan makan bancakan bersama. Entah karena saya yang kelaparan atau yang lain lagi malas makan, saya menjadi last girl standing, jadi malu karena ketahuan makannya banyak (akhirnya saya bisa mengerti perasaan Nurul, cewek di GL XIX yang makannya banyak banget -___-).



Kembali ke topik srt, sampai setelah selesai makan srt pun dilanjutkan kembali bagi yang belum turun. Karena menunggu sampai semuanya kebagian turun, saya pun tertidur hingga waktunya beres-beres karena materi hari ini sudah selesai. Itu artinya saya harus berjalan sangat jauh sekali untuk sampai ke base camp. Long march pun dimulai dengan menuruni bukit, banyak menelan korban juga alias kepeleset karena turunan dan gelap. Sampai juga di base camp, walau sudah malam, udara tetap panas. Sambil menunggu rapat evaluasi dimulai, lagi-lagi saya tertidur di teras rumah. Evalusi pun dimulai di dalam rumah, saya disuruh masuk mengikuti evaluasi. Pada intinya materi hari ini berjalan molor dan tidak sesuai target (target awal vertical rescue juga selesai hari ini) karena ternyata peserta banyak yang belum mengenal alat-alat srt sehingga harus diajarkan dari dasar. Keputusan lain dari rapat ini adalah besok akan ada materi vertical rescue dan pemetaan Goa Bojong. Tim dibagi dua sehingga mudah-mudahan tidak mengantri dan materi akan dimulai jam tujuh pagi. Tidur………………..!!

Minggu, 2 Mei 2010,

saya bangun jam enam pagi. Oh masih banyak yang belum bangun. Pada latgab ini, yang perempuan tidur di dalam rumah dan yang laki-laki tidur di tenda. Saya jadi ingat teman-teman saya yang mendirikan flysheet merah di depan rumah warga, pasti mereka belum bangun. Waw ajaib…! Saya melihat mereka sudah bangun, bahkan Yudha dan Onye sedang masak.
Saya rasa tidak perlu lah kita membahas makanan. Seselesainya makan, kami masih bersantai-santai karena walau sudah jam tujuh pagi, belum ada tanda-tanda materi akan dimulai bahkan banyak peserta yang masih masak atau mandi. Waktu luang itu kami gunakan untuk beres-beres di dalam flysheet merah sambil berbincang-bincang (-__-) dan menikmati teh panas. Sekitar jam setengah sembilan toa pun berbunyi tanda materi akan segera dimulai. Jadi materi dibagi dua menjadi vertical rescue dan pemetaan Goa Bojong, kalau keburu peserta bisa bertukar materi. Kami memutuskan untuk ikut materi vertical rescue dulu. Waw sedikit ternyata yang ikut materi vertical rescue. Saat materi berlangsung, saya merasa bingung karena caranya tidak dijelaskan, hanya dipraktekan. Kemudian peserta saling sharing metoda-metoda vertical rescue dan pak Mucin memeragakan metoda counter balance dengan Onye sebagai korban. Kemudian ada Ka Nizar dan Ka Jaya (Palawa Unpad) memeragakan rescue yang tekniknya mengangkat korban ke atas. Yoga pun ikut mencoba dengan Onye sebagai korban. Oh tiba-tiba Cacing (Bramatala) datang dan mengajak explore Goa Bojong. Saya dan Yudha pun menhianati Yoga dan Onye yang tengah tergantung di pohon.


Saya dan Yuda bersiap-siap dengan memakai coverall yang lagi dijemur, setelah siap, saya, Yudha, Cacing mulai berjalan menuju Goa Bojong. Tidak jauh dari base camp kita, terdapat sungai yang mengalir keluar dari mulut goa. Goa Bojong menjadi semacam terowongan raksasa bagi sungai ini, dari awal mulut goa hingga ujung mulut goa lagi seluruhnya berair karena memang jalur sungai. Kami pun menyusuri goa melawan arus sungai. Waa belum apa-apa tinggi airnya sudah seperut saya, ditambah lagi lumpur yang membuat saya susah berjalan. Saya pun menitipkan kamera pada Yudha yang lebih tinggi dari saya. Goanya cukup lebar dan tinggi, tampaknya Cacing kegirangan, dia berenang, ah airnya tidak sejernih sungai bawah tanah di goa Gombong, airnya lumayan coklat. Tak jauh kami berjalan nampak suara-suara yang sepertinya peserta latgab. Benar saja mereka ada yang sedang berenang dan ada yang duduk di ornament goa, ah buruk sekali, kedatangan saya disambut meriah dengan teriakan, ”Foto…foto…!!”. Oh mereka menyambut kamera yang saya pegang, bukan menyambut saya (-______-). Setelah sesi foto, kami melanjutkan explore goa, ternyata materi pemetaan goa nya selesai sampai di tempat foto-foto tadi. Kami pun melewati lorong berair yang menurut saya lumayan, tapi belum terlihat ornament yang menarik nih.

Akhirnya sampai di lorong kecil yang sempit karena banyak stalaktit ditambah dengan air yang makin meninggi, untung panitia sudah memasang tali di sisi kanan dinding goa, waw ternyata memang tinggi airnya melebihi tinggi badan saya. Sial saya tidak bisa mendokumentasikannya, padahal banyak ornament yang lumayan, apalagi setelah keluar lorong kecil itu banyak kanopi yang memercikan air…ahh saya tidak foto kanopi-kanopi itu. Entah karena waktunya terburu-buru atau hal lain, panitia menyusuri goa dengan cepat, saya tidak sempat hunting ornament-ornamen untuk di dokumtasikan…ahh sayang sekali. Akhirnya tu kamera saya serahkan ke Yudha karena saya yakin tidak akan sempat foto-foto ornament goa dan lorong yang berair. Hopeless. Saya pun mengikuti panitia, terus menyusuri goa yang airnya makin tinggi dan sangat berlumpur. Kadang kami harus lewat samping atas untuk menghindari air yang sangat dalam, tapi tetap saja saya harus melewati lorong berair yang tinggi airnya lebih tinggi dari saya sehingga saya harus berpegangan pada Yudha.

Dalam Goa Bojong ini, ornament yang dapat dilihat bermacam-macam, ada pilar yang sangat besar, kanopi, stalaktit, teras, dam alami, hingga stalakmit yang masih muda (masih putih). Walau bermacam-macam, ornament-ornamen ini warnanya tidak bagus, umumnya tidak putih (kecuali stalakmit).
Kondisi di dalam goa pun banyak sampah, mungkin sampah rumah tangga masyarakat yang terbawa aliran sungai dan nyangkut di dalam goa. Pada saat melewati celah kecil karena terhalangi dinding goa yang besar, saya mulai merasakan bau-bau guano (yaks..) dan akhirnya saya pun melihat cahaya matahari…mulut goa pun terlihat…sesampainya di mulut goa, kami pun istirahat sebentar di bebatuan sungai.
Saya, Yudha, dan teman lainnya memutuskan lewat jalan darat untuk mencapai base camp, sedangkan Cacing dan salah satu panitia memutuskan backtrack ke dalam goa karena ternyata Fajar dan Rizal (Bramatala) menunggu di dalam, atau karena Cacing ketagihan?

Ahhh…ternyata jalan darat melelahkan sekali, naik turun bukit ditambah dengan lewat pesawahan. Sesampainya di basecamp saya langsung mencari kamar mandi, ternyata semua kamar mandi umum dipakai, terpaksa saya memakai kamar mandi umum di dekat musola yang jaraknya lumayan jauh dari base camp. Selesai mandi dan sekembalinya di base camp, ternyata semua peserta sudah datang dan sibuk packing karena materi latgab telah selesai. Ternyata flysheet merah kami telah dibereskan begitu pun dengan logistic, sudah ter-pack dengan rapi, kecuali boot dan coverall saya. Setelah kami dan anak-anak Bramatala siap, sekitar jam empat kami meningalkan base camp menuju sekre TCC. Rupanya terlambat dua jam dari rencana panitia, panitia merencanakan materi selesai dan peserta bisa pulang jam dua siang, karena ada masalah peralatan yang saling tertukar dan administrasi, kami pun terpaksa menunggu sampai jam empat.

Saat menuju Tasik kota, pada waktu magrib, motor yang ditunggangi Cacing dan Yudha mengalami pecah ban. Saya, Mucin, Onye, Yoga pun turut berhenti dan ikut ke tempat tambal ban. Kebetulan sekali ada warung baso, sekaligus saja menunggu motor sambil makan malam. Jam tujuh malam kami mulai berangkat lagi menuju sekre TCC. Sekitar jam delapan malam kami tiba di sekre TCC, tanpa basa-basi kami langsung pamitan dengan semua peserta dan panitia yang sedang berkumpul disana. Jam setengah sembilan kami (KMPA dan Bramatala) beranjak dari sekre TCC menuju Bandung. Waa…hajar saja lah…karena besok kami harus kuliah. Perjalanan pulang selama kurang lebih tiga setengah jam bersama angin malam dan truk-truk barang berhasil membuat saya tepar, masuk angin, dan demam. Pesan moral: selalu pakai jaket kalau melakukan perjalanan dengan motor. Haha., tapi saya tidak pernah kapok, perjalanan latgab yang menyenangkan walaupun selalu ada kekurangan dan ketidakpuasan. Harapan saya sih, dalam kegiatan caving, etika caving harus dapat disepakati dan dijalankan oleh semua cavers, seperti tidak memegang atau menginjak ornament-ornamen muda yang masih tumbuh, tidak menduduki kanopi, dan tidak meninggalkan sampah di dalam goa karena kita (cavers) harus ikut bertanggung jawab menjaga ekosistem goa yang sensitif. Hoho…!! KMPA….GANESHA….!!