penasaran. berani. logis

Trip Gombong

CATATAN PERJALANAN CAVING KE GOMBONG
oleh : Yoga S. Sisminardi (GM-024-XIX)
Penasaran, Berani, Logis

“KMPA!!!…GANESHA...!!” teriakan pertama kami dari "SEL KMPA" ketika akan berangkat menuju Gombong, Jawa Tengah. Tim kali ini terdiri dari 6 orang yakni sang ketua rombongan Mukhsin, gw(yoga), kadiv caving kami, Os, Yudha si sawit, si anak kecil, usi, dan nurul, si pemakan segala.hehehe.....
gw, usi, yudha, dan nurul adalah anggota muda divisi caving. Sebenarnya ada satu orang lagi bernama bimo. Namun dia urung berangkat karena masalah perizinan dan birokrasi yang ribet.

AWAL MULA
Mungkin saat kita mendengar kata Gombong, yang terlintas di benak kita adalah suatu daerah antah berantah yang tidak jelas dan jauh dari peradaban. Tapi ternyata Gombong menyimpan seribu rahasia yang patut dikuak khususnya oleh para caver sejati.
Berawal dari ajakan saudara kita dari ASTACALA, kami tertarik untuk membuka tabir gelap yang menutupi misteri gua di Gombong. Pada saat itu, kebetulan astacala akan mengadakan diklat caving untuk para anggota muda mereka. Entah mendapat wangsit darimana, mereka kemudian mengajak seorang Mukhsin untuk ikut rombongan mereka. Dengan penuh semangat, Mukhsin mengajak anggota caving baru untuk ikut serta. Maklum, baru kali ini cavers muda KMPA berjumlah 5 orang. Tentu saja, dengan senang hati kami mengangguk-anggukkan kepala tanda sepakat. Akhirnya diputuskan tanggal 19 Maret kami semua berangkat bareng astacala. Semua persiapan menuju spot dipersiapkan matang-matang. Namun, menjelang keberangkatan, kami mendapat berita bahwa astacala tidak bisa membawa serta kami semua karena terlalu banyak orang yang ikut. Astacal sendiri telah membwa anggota muda yang cukup banayk. Akhirnya rencana pun diubah. Hanya Mukhsin dan Yudha yang berangkat bersama mereka. Rencana yang dipersiapkan, mereka berdua ikut untuk survey dan kemudian minggu depan barulah kita berangkat sendiri.

GOMBONG TRIP
Akhirnya, saat yang kita tunggu-tunggu tiba juga. Jumat, 26 Maret 2010 kira-kira jam 9 malam tim berangkat menuju Gombong. Agar tidak kehabisan tiket kereta api, gw berangkat lebih dulu untuk membeli tiket. Menunggangi "belalang tempur" milik om Sigit dengan diantar Rachman, langsung menuju stasiun Kiaracondong. Cukup heran, ternyata "belalang tempur" itu sangat tangguh untuk melintasi jalanan kota Bandung yang penuh "jebakan". Tak lama kemudian, kawan-kawan yang lain menyusul dan kami pun bertolak menuju gombong sekitar jam 10 malam.
Pukul setengah 6 pagi kami turun dari kereta di stasiun Gombong. Setelah beberapa saat melepas penat, kami melanjutkan perjalanan ke kantor PERHUTANI di Gombong untuk mengambil surat ijin. Kemudian kami mencari sesuap nasi untuk mengisi perut kami yang kosong. Lokasi gua tepatnya terletak di kecamatan Ayah. Untuk menuju kesana, kami menggunakan moda transportasi bernama bis selama kurang lebih 1 jam perjalanan. Sampai di Ayah, perjalanan masih cukup terjal, dalam arti sebenarnya. Turun dari bis, kami harus berjalan kaki menuju rumah pak RT, Pak Saji. Jalan berbatu dan terjal harus kami tempuh. Perjuangan yang cukup melelahkan. Untungnya, sampai disana kami langsung disuguhi minuman pelepas dahaga berupa teh dan beberapa jajanan. Setelah beristirahat sejenak, kami langsung mempersiapkan perbekalan dan alat-alat untuk explorasi gua macan. Gua ini, menurut pak Saji cukup terkenal dan sering dikunjungi oleh caver-caver dari seluruh penjuru Indonesia. Membuat kami semakin penasaran seperti apa rupa gua vertical ini. Setelah semua siap dan briefing sejenak, kami diantar oleh pak Saji menuju gua.

MACAN CAVE EXPLORATION
Mulut gua ternyata cukupm sempit sehingga kami harus berjalan jongkok untuk bisa masuk. Sekitar 5 meter ke dalam, chamber gua cukup luas. Dengan leluasa kami menyusuri gua tersebut. Tidak ada hal yang menarik dari dalam gua ini karena gua ini sudah mati aliran airnya. Ornamen-ornamen yang ada tergolong biasa-biasa saja. Hanya di beberapa tempat kami temukan ornamen yang cukup indah yang sempat diabadikan oleh si anak kecil, usi. Sampai pada akhirnya kami sampai pada salah satu bagian gua yang paling indah. Di tempat ini, gua menemukan ujungnya.
Aula yang sangat besar membuat kami takjub. Lebih hebat lagi, dibawah aula yang besar itu, terdapat lubang yang besar dan memiliki kedalaman kira-kira 50 meter ke bawah. Suara gemericik air sungai terdengar jelas di telinga kami dari dalam lubang itu. Menurut cerita, selain sungai, di bawah sana juga terdapat semacam danau. Kabarnya pula, sudah pernah ada orang dengan perlengkapan diving yang lengkap menelusuri gua berair tersebut. Semakin bertambahlah keinginan kami untuk menelusur ke bawah. Namun karena tidak memungkinkan untuk memasang anchor di tempat itu, kami melanjutkan penelusuran untuk mencari tempat yang lebih safety. Tak lama, Mukhsin menemukan tempat yang pas untuk SRT turun ke bawah. Segeralah Muhsin dan Os memasang peralatan-peralatan yang dibutuhkan untuk memasang anchor. Aku pun membantu dari jauh prosesi pemasangan anchor. Setelah lama mencoba untuk membuat anchor, akhirnya semua siap. Os mendapat kehormatan untuk menjadi orang pertama yang turun ke bawah.


THE TRAGEDY
Ternyata, memang pengalaman adalah guru yang terbaik. Pengalaman dan jam terbang yang kurang, hampir menyebabkan jatuh korban. Os yang baru beberapa meter turun ke bawah mendadak berteriak. Suara seperti ada sesuatu yang pecah membuat aku terbangun dari tidurku. Dalam kekhawatiran takut terjadi apa-apa, aku menerka-nerka, apa yang terjadi. Ternyata batu yang digunakan untuk memasang anchor pecah. Untung masih ada back-up sehingga Os tidak terjun bebas ke dalam lubang yang gelap itu.


Dengan tenang Mukhsin memberiakn instruksi-instruksi kepada Os untuk naik kembali. Akhirnya, dengan kerja keras Mukhsin dan Os, Os dapat kembali naik ke permukaan. Sungguh saat-saat yang sangat mencekam. Untunglah, semua selamat. Dalam situasi seperti itu, Mukhsin memutuskan untuk menghentikan explorasi hari itu. Diakuinya, mentalnya sudah tidak cukup kuat untuk melanjutkan SRT. Kecewa, memang. Tapi begitulah keadaannya. Justru kejadian tersebut menguatkan motivasi kami untuk kembali ke gua itu dengan membawa skill yang mumpuni agar penelusuran berikutnya bisa lebih optimal. Sambil menenangkan hati dan pikiran, kami beranjak pulang menuju rumah pak Saji. Sampai disana kami membereskan peralatan dan segera beranjak tidur untuk menyimpan energi buat esok hari. Dalam pikirku, ah, tak apalah hari ini kami gagal SRT di gua macan. Masih ada hari esok untuk explorasi gua lain yang tak kalah menarik. Toh, dari kejadian hari pertama, kami belajar banyak.


SECOND DAY IN GOMBONG

Pagi hari yang cerah membangunkan tidur kami yang nyenyak. Segera aku membersihkan muka dan bersiap sholat subuh. Baru membayangkan makan enak pagi itu, eh ternyata di meja telah tersaji makanan yang telah disiapkan oleh pak Saji. Tanpa kompromi dan basa-basi, langsung kami lahap makanan yang ada di meja. Terutama Nurul, si anak Padang, makan dengan hebatnya. Di angkatan KMPA XIX ini, Nurul memang terkenal karena nafsu makannya yang luar biasa. Puas dengan sarapannya, kami tak sabar untuk segera bersiap menuju penelusuran gua berikutnya. Semua persiapan berjalan dengan baik, segera pak Saji ikut mengantar kami ke gua Jomblang.
Menurut beliau, jika ditelusuri hingga ujung, gua ini akan tembus ke gua pariwisata yaitu gua petruk.
Pak Saji hanya bisa mengantar kami hingga mulut gua saja karena beliau harus mengantarkan anaknya ke terminal karena hendak pulang ke Sumatra. Perjalanan di hari kedua ini ternyata cukup dapat mengobati rasa kecewa kami di hari pertama. Semakin dalam kami telusuri, semakin banyak keindahan yang tersingkap. Kami pun semakin menikmati explorasi kali ini karena gua kali ini berair.


Jadilah kami berenang-renang sambil menikmati keindahan ornamen-ornamen yang seperti ingin menunjukkan kemolekannya pada mata kami. Rasa syukur langsung terucap dari dalam hatiku saat itu. Subhanallah, Maha Besar Allah denga segala ciptaannya. Tak ingin hanya bermain-main saja, kami saat itu juga sempat mencoba mempelajari teknik-teknik fotografi di gua. Cukup sulit membuat foto yang indah di dalam gua mengingat cahaya dalam gua yang sangat minim. Tak lupa pula kami foto-foto bersama untuk mengabadikan momen-momen indah saat itu. Setelah dirasa cukup dan karena memang waktu sudah mepet, kami melanjutkan penelusuran hingga akhirnya, benar kata pak Saji, kami keluar di gua petruk. Mengingat keesokan harinya kami harus melanjutkan kehidupan di ITB, kami tak ingin ketinggalan kereta. Setelah berpamitan dan berfoto dengan pak Saji dan ibu, segera kami pulang menuju peradaban dan kembali ke rutinitas sehari-hari. . . . .

Penasaran, Berani, Logis
Bandung, 24 April 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar