penasaran. berani. logis

Trip Gombong

CATATAN PERJALANAN CAVING DI GOMBONG

Jumat, 26 Maret 2010, kira-kira pukul 10 malam, kita, anak-anak caving yang berjumlah 6 orang ( usie, os, yudha,yoga,muhsin dan nurul) mengadakan perjalanan ke Jawa Tengah, lebih tepatnya kabupaten Gombong, lebih tepatnya lagi kecamatan Ayah. Tujuan kita mengadakan acara ini tak lain dan tak bukan adalah melihat dan lebih mengenal goa. Di kecamatan Ayah ini kita udah masuk ke dalam 2 goa yang cukup terkenal, yaitu goa jemblongan dan goa macan.

Buat pergi ke kecamatan Ayah, butuh waktu kira-kira 8 jam, 7 jam dikereta dari stasiun kiara condong ke stasiun gombong, dan 1 jam nya lagi pakai bis dari gombong ke kecamatan ayah. Kita berangkat dari Bandung jam 10 malem, nyampe di kecamatan ayah kira-kira jam 6 pagi. Cukup menyiksa buat pantat gw yang makin lama makin menipis.hehe. di desa ayah, kita menumpang tinggal di rumah pak RT selama lebih kurang 2 hari 1 malem. Nyampe di desa ayah, kita langsung dihidangkan sarapan, padahal di jalan tadi juga udah sarapan, tapi nggak apa apa, hitung-hitung tambah energi. Hehe. Setelah istirahat dan nyiapin barang-barang buat masuk ke goa sekitar 2 jam, kita berangkat ke goa macan.

Di goa ini, rencananya kita mau SRT-an, karena dari kabar yang kita dengar di goa ini ada goa vertikalnya, panjangnya kira-kira 50 m. Tetapi karena ada satu tragedi yang sama-sama tidak kita inginkan, SRT tidak jadi dilaksanakan. Tapi, ada satu hal yang sangat menarik di dalam goa ini. Ada aula yang gede banget, terus sekitar 50 meter ke bawah ada sungai yang ngalir deres banget. Menurut cerita orang yang pernah ngeliat langsung, dibawah juga ada danaunya. Katanya juga sih, pernah ada yang diving di danau itu. Tapi sayang banget, kita belum bisa liat danaunya, kerena ga jadi SRT. Gw pribadi juga cukup kecewa sih, tapi gak apa apa, ini justru jadi motivasi gw buat balik ke goa itu lagi, buat SRT-an dan ngeliat langsung danaunya.

Setelah beresin alat-alat buat instalasi, Kita keluar dari goa macan, kira-kira pukul 3 siang. Setelah itu, kita istirahat beberapa menit di pondok deket goa sambil ngeliat pemandangan sekitar kota gombong. Abis itu, kita balik ke rumahnya pak RT. Kita langsung mandi dan bersih-bersih alat. Sekitar jam 6 sore, kita makan malam. Nah, abis makan malam kita ngobrol-ngobrol. Yah, sedikit ngegosiplah. Haha. Dan disela-sela gosip, Yoga juga ngeluarin kata-kata “alay”-nya. Ini yang bikin heboh. Haha. Tapi gw juga jadi ketularan dan sering sering ngucapin kata-kata alay, seperti “chups” yang kata Yoga artinya cupu. Hahaha. Emang alay tuh anak. Well, hari ini seru lah.

Hari kedua, kita udah berencana masuk ke goa jemblongan yang kata Yudha yang udah pernah survey kesini didalamnya bagus banget. Buat mencapai goa ini kita harus jalan sekitar 1 km, dengan tanjakan yang lumayan menyiksa. Bener aja kata Yudha, Ini bukan goa horizontal biasa, didalamnya ada sungai yang bagus banget. Gw baru pertama kali ngeliat sungai yang bener-bener gak ada sampahnya kayak gitu. Pokoknya kerenlah. Di dalm goa ini, banyak hal-hal wah yang gak kepikiran sebelumnya.
Pas pertama kali ngeliat sungainya, gw gak berasa ada di dalam goa. Gw baru tahu kalo ada goa yang sekeren itu.Stalagtitnya juga masih banyak yang hidup, jadi kita harus jalan super hati-hati biar nggak nyentuh apalagi ngerusak ornamen-ornamen yang ada. Ornamen yang paling gw inget itu adalah batu yang kegantung dan ngeluarin air, kayak shower gitu deh. Itu keren banget. Selain itu juga ada bagian yang kita harus masuk ke dalamnya dengan posisi tiarap, karena sempit dan diatasnya banyak stalagtit yang menggantung. Nah, ternyata goa ini berakhirnya di goa wisata, yaitu goa petruk. Disebut goa petruk gara-gara ada batu yang menyerupai petruk didalamnya. Juga ada yang semar didalamnya.


Dari goa petruk, kita jalan balik ke rumah pak RT, sebenernya gak begitu jauh sih, cuma sekitar 2 km.

Tapi karen cuaca yang lumayan panas, perjalanan terasa sangat melelahkan. Setelah jalan sekitar 1 jam, kita pun sampai di rumah pak RT dan langsung packing dan bersih-bersih, kerana takut ketinggalan kereta. Gak lupa sebelum berangkat kita makan siang dulu. Hehe.

Sekitar jam 2 siang kita udah berada di stasiun gombong lagi. Di stasiun, kita juga ketemu sama anak-anak pecinta alam dari stt telkom “ASTACALA”. Perjalanan pulang terasa lebih lama, kita berada dikereta sekitar 8 jam . Sesampainya di bandung waktu telah menunjukkan pukul 11 malam. Untungnya, papa Usie nganterin kita sampai ke ITB, jadi kita nggak perlu ribet-ribet naik angkot.


Perjalanan ke Gombong kali ini sangat seru, ngebuat kita jadi lebih tertarik dan penasaran sama yang namanya goa. Karena banyak hal-hal yang nggak kita duga ada di dalam goa.

Trip Gombong

CATATAN PERJALANAN CAVING KE GOMBONG
oleh : Yoga S. Sisminardi (GM-024-XIX)
Penasaran, Berani, Logis

“KMPA!!!…GANESHA...!!” teriakan pertama kami dari "SEL KMPA" ketika akan berangkat menuju Gombong, Jawa Tengah. Tim kali ini terdiri dari 6 orang yakni sang ketua rombongan Mukhsin, gw(yoga), kadiv caving kami, Os, Yudha si sawit, si anak kecil, usi, dan nurul, si pemakan segala.hehehe.....
gw, usi, yudha, dan nurul adalah anggota muda divisi caving. Sebenarnya ada satu orang lagi bernama bimo. Namun dia urung berangkat karena masalah perizinan dan birokrasi yang ribet.

AWAL MULA
Mungkin saat kita mendengar kata Gombong, yang terlintas di benak kita adalah suatu daerah antah berantah yang tidak jelas dan jauh dari peradaban. Tapi ternyata Gombong menyimpan seribu rahasia yang patut dikuak khususnya oleh para caver sejati.
Berawal dari ajakan saudara kita dari ASTACALA, kami tertarik untuk membuka tabir gelap yang menutupi misteri gua di Gombong. Pada saat itu, kebetulan astacala akan mengadakan diklat caving untuk para anggota muda mereka. Entah mendapat wangsit darimana, mereka kemudian mengajak seorang Mukhsin untuk ikut rombongan mereka. Dengan penuh semangat, Mukhsin mengajak anggota caving baru untuk ikut serta. Maklum, baru kali ini cavers muda KMPA berjumlah 5 orang. Tentu saja, dengan senang hati kami mengangguk-anggukkan kepala tanda sepakat. Akhirnya diputuskan tanggal 19 Maret kami semua berangkat bareng astacala. Semua persiapan menuju spot dipersiapkan matang-matang. Namun, menjelang keberangkatan, kami mendapat berita bahwa astacala tidak bisa membawa serta kami semua karena terlalu banyak orang yang ikut. Astacal sendiri telah membwa anggota muda yang cukup banayk. Akhirnya rencana pun diubah. Hanya Mukhsin dan Yudha yang berangkat bersama mereka. Rencana yang dipersiapkan, mereka berdua ikut untuk survey dan kemudian minggu depan barulah kita berangkat sendiri.

GOMBONG TRIP
Akhirnya, saat yang kita tunggu-tunggu tiba juga. Jumat, 26 Maret 2010 kira-kira jam 9 malam tim berangkat menuju Gombong. Agar tidak kehabisan tiket kereta api, gw berangkat lebih dulu untuk membeli tiket. Menunggangi "belalang tempur" milik om Sigit dengan diantar Rachman, langsung menuju stasiun Kiaracondong. Cukup heran, ternyata "belalang tempur" itu sangat tangguh untuk melintasi jalanan kota Bandung yang penuh "jebakan". Tak lama kemudian, kawan-kawan yang lain menyusul dan kami pun bertolak menuju gombong sekitar jam 10 malam.
Pukul setengah 6 pagi kami turun dari kereta di stasiun Gombong. Setelah beberapa saat melepas penat, kami melanjutkan perjalanan ke kantor PERHUTANI di Gombong untuk mengambil surat ijin. Kemudian kami mencari sesuap nasi untuk mengisi perut kami yang kosong. Lokasi gua tepatnya terletak di kecamatan Ayah. Untuk menuju kesana, kami menggunakan moda transportasi bernama bis selama kurang lebih 1 jam perjalanan. Sampai di Ayah, perjalanan masih cukup terjal, dalam arti sebenarnya. Turun dari bis, kami harus berjalan kaki menuju rumah pak RT, Pak Saji. Jalan berbatu dan terjal harus kami tempuh. Perjuangan yang cukup melelahkan. Untungnya, sampai disana kami langsung disuguhi minuman pelepas dahaga berupa teh dan beberapa jajanan. Setelah beristirahat sejenak, kami langsung mempersiapkan perbekalan dan alat-alat untuk explorasi gua macan. Gua ini, menurut pak Saji cukup terkenal dan sering dikunjungi oleh caver-caver dari seluruh penjuru Indonesia. Membuat kami semakin penasaran seperti apa rupa gua vertical ini. Setelah semua siap dan briefing sejenak, kami diantar oleh pak Saji menuju gua.

MACAN CAVE EXPLORATION
Mulut gua ternyata cukupm sempit sehingga kami harus berjalan jongkok untuk bisa masuk. Sekitar 5 meter ke dalam, chamber gua cukup luas. Dengan leluasa kami menyusuri gua tersebut. Tidak ada hal yang menarik dari dalam gua ini karena gua ini sudah mati aliran airnya. Ornamen-ornamen yang ada tergolong biasa-biasa saja. Hanya di beberapa tempat kami temukan ornamen yang cukup indah yang sempat diabadikan oleh si anak kecil, usi. Sampai pada akhirnya kami sampai pada salah satu bagian gua yang paling indah. Di tempat ini, gua menemukan ujungnya.
Aula yang sangat besar membuat kami takjub. Lebih hebat lagi, dibawah aula yang besar itu, terdapat lubang yang besar dan memiliki kedalaman kira-kira 50 meter ke bawah. Suara gemericik air sungai terdengar jelas di telinga kami dari dalam lubang itu. Menurut cerita, selain sungai, di bawah sana juga terdapat semacam danau. Kabarnya pula, sudah pernah ada orang dengan perlengkapan diving yang lengkap menelusuri gua berair tersebut. Semakin bertambahlah keinginan kami untuk menelusur ke bawah. Namun karena tidak memungkinkan untuk memasang anchor di tempat itu, kami melanjutkan penelusuran untuk mencari tempat yang lebih safety. Tak lama, Mukhsin menemukan tempat yang pas untuk SRT turun ke bawah. Segeralah Muhsin dan Os memasang peralatan-peralatan yang dibutuhkan untuk memasang anchor. Aku pun membantu dari jauh prosesi pemasangan anchor. Setelah lama mencoba untuk membuat anchor, akhirnya semua siap. Os mendapat kehormatan untuk menjadi orang pertama yang turun ke bawah.


THE TRAGEDY
Ternyata, memang pengalaman adalah guru yang terbaik. Pengalaman dan jam terbang yang kurang, hampir menyebabkan jatuh korban. Os yang baru beberapa meter turun ke bawah mendadak berteriak. Suara seperti ada sesuatu yang pecah membuat aku terbangun dari tidurku. Dalam kekhawatiran takut terjadi apa-apa, aku menerka-nerka, apa yang terjadi. Ternyata batu yang digunakan untuk memasang anchor pecah. Untung masih ada back-up sehingga Os tidak terjun bebas ke dalam lubang yang gelap itu.


Dengan tenang Mukhsin memberiakn instruksi-instruksi kepada Os untuk naik kembali. Akhirnya, dengan kerja keras Mukhsin dan Os, Os dapat kembali naik ke permukaan. Sungguh saat-saat yang sangat mencekam. Untunglah, semua selamat. Dalam situasi seperti itu, Mukhsin memutuskan untuk menghentikan explorasi hari itu. Diakuinya, mentalnya sudah tidak cukup kuat untuk melanjutkan SRT. Kecewa, memang. Tapi begitulah keadaannya. Justru kejadian tersebut menguatkan motivasi kami untuk kembali ke gua itu dengan membawa skill yang mumpuni agar penelusuran berikutnya bisa lebih optimal. Sambil menenangkan hati dan pikiran, kami beranjak pulang menuju rumah pak Saji. Sampai disana kami membereskan peralatan dan segera beranjak tidur untuk menyimpan energi buat esok hari. Dalam pikirku, ah, tak apalah hari ini kami gagal SRT di gua macan. Masih ada hari esok untuk explorasi gua lain yang tak kalah menarik. Toh, dari kejadian hari pertama, kami belajar banyak.


SECOND DAY IN GOMBONG

Pagi hari yang cerah membangunkan tidur kami yang nyenyak. Segera aku membersihkan muka dan bersiap sholat subuh. Baru membayangkan makan enak pagi itu, eh ternyata di meja telah tersaji makanan yang telah disiapkan oleh pak Saji. Tanpa kompromi dan basa-basi, langsung kami lahap makanan yang ada di meja. Terutama Nurul, si anak Padang, makan dengan hebatnya. Di angkatan KMPA XIX ini, Nurul memang terkenal karena nafsu makannya yang luar biasa. Puas dengan sarapannya, kami tak sabar untuk segera bersiap menuju penelusuran gua berikutnya. Semua persiapan berjalan dengan baik, segera pak Saji ikut mengantar kami ke gua Jomblang.
Menurut beliau, jika ditelusuri hingga ujung, gua ini akan tembus ke gua pariwisata yaitu gua petruk.
Pak Saji hanya bisa mengantar kami hingga mulut gua saja karena beliau harus mengantarkan anaknya ke terminal karena hendak pulang ke Sumatra. Perjalanan di hari kedua ini ternyata cukup dapat mengobati rasa kecewa kami di hari pertama. Semakin dalam kami telusuri, semakin banyak keindahan yang tersingkap. Kami pun semakin menikmati explorasi kali ini karena gua kali ini berair.


Jadilah kami berenang-renang sambil menikmati keindahan ornamen-ornamen yang seperti ingin menunjukkan kemolekannya pada mata kami. Rasa syukur langsung terucap dari dalam hatiku saat itu. Subhanallah, Maha Besar Allah denga segala ciptaannya. Tak ingin hanya bermain-main saja, kami saat itu juga sempat mencoba mempelajari teknik-teknik fotografi di gua. Cukup sulit membuat foto yang indah di dalam gua mengingat cahaya dalam gua yang sangat minim. Tak lupa pula kami foto-foto bersama untuk mengabadikan momen-momen indah saat itu. Setelah dirasa cukup dan karena memang waktu sudah mepet, kami melanjutkan penelusuran hingga akhirnya, benar kata pak Saji, kami keluar di gua petruk. Mengingat keesokan harinya kami harus melanjutkan kehidupan di ITB, kami tak ingin ketinggalan kereta. Setelah berpamitan dan berfoto dengan pak Saji dan ibu, segera kami pulang menuju peradaban dan kembali ke rutinitas sehari-hari. . . . .

Penasaran, Berani, Logis
Bandung, 24 April 2010

Pemetaan Cikaracah

Catatan Perjalanan ke Goa Cikaracak, Padalarang
20-21 Maret 2010

Oleh: Usie Fauzia A. (GM-022-XIX)


Perjalanan ini dilakukan karena sebenarnya kami benar-benar ngebet ingin caving dan rencana awal ke Gombong tidak jadi karena dua orang teman kami, Muhsin dan Aji, ada ujian, maka muncullah ide untuk caving di Padalarang. Rencana ini benar-benar mendadak, bahkan pada malam tanggal 19 Maret belum ada kepastian pergi ke Padalarang. Akhirnya saya inisiatif menanyakan anak-anak caving GL XIX untuk melakukan perjalanan ini dan ternyata kepastian yang ikut caving kali ini baru muncul jam dua siang hari-H (tanggal 20 Maret tepatnya hari Sabtu). Sekitar jam setengah lima sore saya baru sampai di sel (janji kumpul sebenarnya jam tiga sore). Jam enam sore saya, Yoga, Yudha, Bimo, Muhsin, dan Aji berkumpul di sel untuk membicarakan teknis lapangan dan logistik (waw baru dibicarain sekarang…?) dan akhirnya perjalanan caving sekarang kami akan memetakan Goa Cikaracak.


Sekitar jam delapan malam kami (saya, Yoga, Yudha, dan Muhsin) berangkat dari sel menuju Padalarang, tapi sebelumnya mampir ke swalayan dulu untuk beli makanan. Haha pelajaran pertama buat kami, GL baru khususnya, jangan buat teklap pas hari-H. Gara-gara mendadak kami cukup kerepotan dengan duit untuk beli bahan makanan (padahal bahan makanan kaya beras, garam, dan teman-temannya bisa didapat gratis dari rumah saya) dan tiba-tiba Yudha sadar bahwa kami lupa bawa tenda (sebenarnya tenda sudah disiapkan sama Bimo tapi lupa dimasukin ke kerir haha..). Parah, dengan modal nekat dan keyakinan bahwa malam ini tidak hujan, kami benar-benar berangkat ke Padalarang dengan menggunakan motor.

Jam 10-an kami sampai di basecamp, masih termasuk karst citatah, kebon dengan batu-batu kapur raksasa. Disanalah kami bakar-bakaran ayam (untung cuma berempat haha) dan tidur beralaskan ponco beratapkan langit karena kami lupa bawa tenda. Hari Minggu tanggal 21 Maret 2010, kami bangun pukul 06.00. Setelah solat dan ritual pagi Muhsin, kami mulai masak dengan menu nasi goreng dan martabak mi (untung cuma berempat jadi jatahnya banyak). Langsung go chao ke rumah si ibu(saya ga tau namanya map) buat siapian alat-alat dan pake coverall. Yah karena persiapan yang tidak matang, coverall yang ukurannya kecil tidak terbawa jadi saya pakai yang ukurannya kebesaran untuk badan saya. Berangkatlah kita ke Goa Cikaracak, yah bersakit-sakit dahulu lah untuk mencapai ke sana harus jalan kaki yang lumayan jauh apalagi sepatu boot saya kebesaran dan itu tidak nyaman bagi saya (dilemma berbadan kecil). Untuk mencapai ke mulut goa, kami harus turun kebon karena lokasi goa nya di bawah dan di sela-sela kebon.


Sebelum masuk, kami diberi materi oleh Saudara Muhsin, ternyata pemetaan yang akan kami lakukan sekarang tidak semudah pemetaan yang pernah dilakukan di Goa Lalay pada jaman Diksar GM dulu. Kami diajarkan memetakan aula juga. Untuk pemetaan kali ini, saya berperan sebagai descriptor, Yoga dan Yudha sebagai shooter dan stasioner (mereka sering tukeran peran). Sulit juga yah jadi descriptor, berhubung saya suka bengong dan bingung, saya sering ketinggalan data karena Yoga dan Yudha cepat sekali memetakannya. Kami tergolong lama memetakan goa nya, belum seluruh bagian goa kami petakan. Kami hanya memetakan sampai aula pertama karena ternyata butuh adaptasi untuk memetakan goa hingga lancar, juga butuh kerjasama dan konsentrasi juga buat saya, berhubung suasana goa bikin saya ngantuk dan gampang bengong.
Tidak terlalu sulit untuk memasuki goa ini, hanya beberapa turunan dan langit-langit goa nya yang lumayan rendah jadi kami harus berjalan jongkok hingga bertemu ornament besar kemudian turun ke aula, keadaan goa nya tidak basah, hanya tanah yang berlumpur membuat kami sulit berjalan dan boot saya sering copot karena sulit diangkat dan kaki saya yang terlalu kecil. Karena pemetaan dia aula lama sekali, saya pun menikmati mengambil foto ornament-ornamen goa saya masih belum menemukan flowstone yang menarik, hanya terdapat ornament-ornamen yang bentuknya menyerupai hewan-hewan.

Setelah selesai memetakan aula, kami pun makan siang di sana dan karena sudah jam dua siang kami pun menyudahi pemetaan sampai di sini saja. Waw ternyata lama juga kami di dalam goa dan seperti biasa cahaya matahari tidak pernah jadi begitu dirindukan kecuali oleh kami, para penelusur goa. Yeah day light…!
Setelah keluar dari goa, kami bergegas kembali ke rumah si ibu karena cuaca mendung dan gerimis. Sekitar jam tiga sore kami pergi ke daerah dekat Sungai Citarum, tapi ternyata waduknya jebol dan kami tidak jadi main ke sana, akhirnya kami memang harus balik ke kampus dan sekitar jam setengah tujuh malam kami sampai di kampus dan langsung menunaikan kewajiban kami yaitu cuci-cuci alat yang penuh dengan lumpur.
Perjalanan yang menyenangkan bagi saya apalagi dengan teman-teman caver yang aneh-aneh sifatnya membuat saya ingin caving lagi diberbagai goa yang pasti diluar ekspektasi saya. SEMANGAT…!

Catatan Perjalanan Latihan Gabungan Susur Gua


Catatan Pejalanan Latihan Gabungan Susur Goa

Tasikmalaya, 30 April – 2 Mei 2010

Oleh: Usie Fauzia A. (GM-022-XIX)

Latihan gabungan caving kali ini diselenggarakan oleh Tasikmalaya Caving Community (TCC).




Pada awalnya cavers GL XIX yang bisa ikut hanya saya dan Yudha, sedangkan Nurul, Yoga, Bimo, dan Aji ada prioritas lain. Nekat memang apalagi bos-bos caving (Muhsin dan Os) tidak bisa ikut juga. Ya sudahlah the show must go on…saya tetap melakukan persiapan, tanya sana-sini tentang latgab tahun lalu, tanya prosedurnya ke panitia karena ternyata tanggal 30 April kami ada UTS jadi kami baru bisa pergi Jumat malam sehabis UTS. Saya terus membujuk teman-teman saya untuk ikut latgab, ternyata Yoga berhasil terhasut oleh saya haha…alhasil dia ikut latgab dan izin dari kadwil di fakultasnya.

Karena kesibukan masing-masing apalagi UTS Fisika membayang-bayangi kami, saya menginstruksikan kepada Yoga dan Yudha untuk menecek alat-alat yang harus dibawa seperti SRT Set dan alat explore goa. Hanya dicek sadja dan kami mulai beres-beres logistik jumat sore sehabis UTS dan rapat, yaah sekitar jam 7 kami baru mulai masukin alat-alat ke kerir. Ternyata Onye alias Rahman ikut latgab dan Pak Muhsin pun ikut juga. Mereka terharu melihat kesungguhan kami (hoek…). Rencana awal kami pergi ke Tasik dengan kereta, ternyata anak Bramatala (mapala Widyatama) ngajak bareng, oh mereka senasib dengan kami harus ujian dulu, kami pun mulai menodong motor anak-anak sel. Motor Ka Aldi, Johan, dan Andi berhasil kami todong. Jam setengah sembilan (telat 30 mnt dari rencana awal) kami berangkat ke Widyatama. Dari Bramatala ada Cacing, Fajar, dan Rizal. Dengan empat motor, kami pun berangkat ke Tasik.

Jam 12 malam kami sampai di Tasik kota dengan selamat walau di perjalanan sopir dan penumpangnya terkantuk-kantuk, apalagi Yoga hampir mencium truk (nyaris). Karena kami tidak tahu sekre TCC, kami berhenti di swalayan Jalan Mitra Batik untuk menunggu panitia. Entah karena capek atau shock hampir mencium truk, Yoga pun tepar. Lumayan lama kami nunggu karena walau panitia telah datang kami tetap harus nunggu satu motor lagi yaitu motor Fajar dan Rizal yang nyasar di warung. Jadi totalnya kami baru sampai di sekre TCC jam 01.00 WIB. Berbincang-bincang sebentar dan kami langsung istirahat di tempat (tidur di ruang itu juga karena males bergerak ke ruang yang disediakan untuk tidur). Kami harus bangun jam limasubuh agar ke lapangan tepat waktu, tapi manusia hanya bisa berencana, anak-anak pada bangun jam 6 pagi. Terima kasih kepada Muhsin, karena kebiasaan menunaikan tugas sucinya dan bau kentutnya dia, saya terbangun jam setengah 6 (hoek…). Setelah solat, saya bantu panitia membangunkan teman-teman jam 6 pagi. Tanpa cuci muka dan sebagainya, setelah bangun mereka langsung manasin motor dan angkut kerir masing-masing. Bersama panitia kami berangkat ke tempat latgab yaitu di Desa Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya. Lumayan jauh, sekitar 2 jam dari Tasik Kota dengan menggunakan motor. Jalan dari jalan raya menuju pedesaan juga sangat ‘off road’ sekali dan lumayan jauh.



Sekitar pukul setengah sembilan pagi kami tiba di rumah penduduk yang dijadikan base camp. Hmm…seperti bukan kawasan karst yang sering terlihat pada umumnya…tidak ada conical hills, jadi sepanjang perjalanan saya menebak-nebak dimana lokasinya karena si conical hills belum muncul juga, ooo ternyata daerah ini termasuk karst tertutup (kata Pa Mucin), tapi terlihat kok banyak batu gamping di sana-sini. Saatnya ganti kostum dan mempersiapkan logistik yang diperlukan seperti srt set dan makanan. Dari base camp ke lokasi goa ternyata sangat jauh sekali (lebay tapi memang benar sih) ditambah dengan jalan yang menanjak dan kostum kita yang panas banget…seperti biasa saya barisan depan karena saya sadar kalau saya di belakang takutnya ketinggalan he…ternyata bukan saya saja yang ngos-ngosan, yang lainnya juga ngos-ngosan (ya iya lah). Sampai di lokasi goa, kami langsung berebut air minum, wow ternyata ramai sekali, ada apa ini? Ooo…pada ngantri mau mencoba srt di goa vertical ini. Sambil menunggu, salah satu panitia ada yang manjat, bukan rock climbing, tapi coconut climbing, ya berburu kelapa muda karena semuanya kehausan dan kebetulan yang empunya ladang kelapa sudah mengizinkan kelapanya di babat oleh panitia (dan juga peserta).

Sebelum kami turun goa, kami ikut latihan srt dulu di pohon karena kami belum mengenal srt intermediate atau deviasi. Anak Bramatala langsung turun goa. Wow ternyata yang latihan srt banyak juga. Kami pun harus mengantri untuk bisa srt di pohon. Tidak hanya mapala yang ikut latgab ini, banyak anak-anak sispala juga yang ikut dan nampaknya mereka belajar dari dasar, dari pengenalan alat sampai srt. Itu yang membuat kami lama menunggu. Saking lamanya kami suruh Onye untuk manjat pohon kelapa dan mengambil beberapa untuk dimakan. Masih kelamaan juga, Yoga dan Mucin sempat tertidur. Akhirnya giliran saya srt, karena sudah sangat lama saya tidak srt-an, memasang alat pun jadi tidak selancar dulu apalagi saat bagian memasang tali dan mengunci autostop (pesan sponsor: rajinlah latihan biar ga gampang lupa). Saya mencoba dua lintasan: polos dan intermediate. Saat di lintasan intermediate, ada panitia yang menginstruksikan sehingga lancar-lancar saja dan jadinya tidak terlalu lama menggantung. Selesai saya maencoba, saatnya giliran Yudha, Yoga, Onye, dan Mucin. Karena sudah jam 12 siang, kami pun inisiatif untuk masak sambil menunggu giliran mereka. Masak seadanya karena bumbu dapur di rumah saya habis huhu, kami pun masak nasi goreng dengan telur yang ga ada rasanya (garam di rumah juga habis). Naas tapi tetap habis karena laper.

Selesai latihan, kami pun pergi ke goa vertikal yang tadi kami datangi pertama kali, oh ternyata masih ngantri, yaah…kami menunggu lagi, tiduran lagi, dan si Yoga pun membaca Brady, buku kimia yang saking tebalnya bisa dijadikan bantal. Kalu diperhatikan, goa vertical ini hanya berupa retakan tanah saja karena tidak ada lanjutan secara horizontal pada dasar gua, dalamnya pun kurang dari 20 meter. Karena bosan menunggu, kami pun mengekor Mucin yang pergi ke lokasi goa lain yang dijadikan tempat ke dua untuk latihan srt. Goa yang ke dua ini pun tipenya sama dengan goa yang pertama karena pada dasarnya ini hanya retakan besar di tanah, mulut goa ini lebih besar dari mulut goa yang pertama. Yaah…kami tetap harus mengantri walau peserta di sini lebih sedikit daripada peserta di goa pertama karena di sini isinya panitia semua…para cavers yang dari mukanya (-__-;) saja sudah ketahuan jago dan peserta-peserta yang sudah expert (lebay). Waa saya jadi merasa paling junior di sini mengingat ini adalah srt pertama saya langsung di lapangan. Di sini kami bertemu lagi dengan anak-anak Bramatala yang entah habis dari mana. Pada saat mau turun, entah karena grogi atau bukan saya jadi lupa apa dulu yang dilakukan buat turun, mengingat selama ini kalau latihan srt di kampus kami naik dulu baru turun, sekarang turun dulu, daripada ketahuan bingung, saya minta bantuan panitia yang bernama Ka Bambang (bukan Bengbeng KMPA). Oo ternyata autostop nya dikunci dulu, lalu pasang jumar, dan buka autostop turun deh. Belum apa-apa saya sudah menjumpai line intermediate, untung masih fresh jadi ga ada masalah. Saya turun sedalam 20 meter. Benar-benar hanya retakan tanah karena tidak ada ornament atau kenampakan goa yang lain. Batuannya basah dan di dasar 20 meter masih ada tanaman, saya tidak perlu menyalakan headlamp karena masih cukup cahaya bagi saya. Setelah sampai dasar, saya naik lagi karena tak ada yang menarik. Lancar-lancar saja hingga saya keluar dari mulut goa. Wuih lumayan deh tapi ga capek-capek banget. Saatnya giliran Yoga, Yudha, Onye, Cacing, dan Fajar.

Hingga saat magrib, tinggal Yudha dan Cacing yang belum kebagian turun. Lumayan memakan waktu yang lama juga. Naas bagi Yudha, pada saat dia turun, panitia menawarkan makan bancakan bersama. Entah karena saya yang kelaparan atau yang lain lagi malas makan, saya menjadi last girl standing, jadi malu karena ketahuan makannya banyak (akhirnya saya bisa mengerti perasaan Nurul, cewek di GL XIX yang makannya banyak banget -___-).



Kembali ke topik srt, sampai setelah selesai makan srt pun dilanjutkan kembali bagi yang belum turun. Karena menunggu sampai semuanya kebagian turun, saya pun tertidur hingga waktunya beres-beres karena materi hari ini sudah selesai. Itu artinya saya harus berjalan sangat jauh sekali untuk sampai ke base camp. Long march pun dimulai dengan menuruni bukit, banyak menelan korban juga alias kepeleset karena turunan dan gelap. Sampai juga di base camp, walau sudah malam, udara tetap panas. Sambil menunggu rapat evaluasi dimulai, lagi-lagi saya tertidur di teras rumah. Evalusi pun dimulai di dalam rumah, saya disuruh masuk mengikuti evaluasi. Pada intinya materi hari ini berjalan molor dan tidak sesuai target (target awal vertical rescue juga selesai hari ini) karena ternyata peserta banyak yang belum mengenal alat-alat srt sehingga harus diajarkan dari dasar. Keputusan lain dari rapat ini adalah besok akan ada materi vertical rescue dan pemetaan Goa Bojong. Tim dibagi dua sehingga mudah-mudahan tidak mengantri dan materi akan dimulai jam tujuh pagi. Tidur………………..!!

Minggu, 2 Mei 2010,

saya bangun jam enam pagi. Oh masih banyak yang belum bangun. Pada latgab ini, yang perempuan tidur di dalam rumah dan yang laki-laki tidur di tenda. Saya jadi ingat teman-teman saya yang mendirikan flysheet merah di depan rumah warga, pasti mereka belum bangun. Waw ajaib…! Saya melihat mereka sudah bangun, bahkan Yudha dan Onye sedang masak.
Saya rasa tidak perlu lah kita membahas makanan. Seselesainya makan, kami masih bersantai-santai karena walau sudah jam tujuh pagi, belum ada tanda-tanda materi akan dimulai bahkan banyak peserta yang masih masak atau mandi. Waktu luang itu kami gunakan untuk beres-beres di dalam flysheet merah sambil berbincang-bincang (-__-) dan menikmati teh panas. Sekitar jam setengah sembilan toa pun berbunyi tanda materi akan segera dimulai. Jadi materi dibagi dua menjadi vertical rescue dan pemetaan Goa Bojong, kalau keburu peserta bisa bertukar materi. Kami memutuskan untuk ikut materi vertical rescue dulu. Waw sedikit ternyata yang ikut materi vertical rescue. Saat materi berlangsung, saya merasa bingung karena caranya tidak dijelaskan, hanya dipraktekan. Kemudian peserta saling sharing metoda-metoda vertical rescue dan pak Mucin memeragakan metoda counter balance dengan Onye sebagai korban. Kemudian ada Ka Nizar dan Ka Jaya (Palawa Unpad) memeragakan rescue yang tekniknya mengangkat korban ke atas. Yoga pun ikut mencoba dengan Onye sebagai korban. Oh tiba-tiba Cacing (Bramatala) datang dan mengajak explore Goa Bojong. Saya dan Yudha pun menhianati Yoga dan Onye yang tengah tergantung di pohon.


Saya dan Yuda bersiap-siap dengan memakai coverall yang lagi dijemur, setelah siap, saya, Yudha, Cacing mulai berjalan menuju Goa Bojong. Tidak jauh dari base camp kita, terdapat sungai yang mengalir keluar dari mulut goa. Goa Bojong menjadi semacam terowongan raksasa bagi sungai ini, dari awal mulut goa hingga ujung mulut goa lagi seluruhnya berair karena memang jalur sungai. Kami pun menyusuri goa melawan arus sungai. Waa belum apa-apa tinggi airnya sudah seperut saya, ditambah lagi lumpur yang membuat saya susah berjalan. Saya pun menitipkan kamera pada Yudha yang lebih tinggi dari saya. Goanya cukup lebar dan tinggi, tampaknya Cacing kegirangan, dia berenang, ah airnya tidak sejernih sungai bawah tanah di goa Gombong, airnya lumayan coklat. Tak jauh kami berjalan nampak suara-suara yang sepertinya peserta latgab. Benar saja mereka ada yang sedang berenang dan ada yang duduk di ornament goa, ah buruk sekali, kedatangan saya disambut meriah dengan teriakan, ”Foto…foto…!!”. Oh mereka menyambut kamera yang saya pegang, bukan menyambut saya (-______-). Setelah sesi foto, kami melanjutkan explore goa, ternyata materi pemetaan goa nya selesai sampai di tempat foto-foto tadi. Kami pun melewati lorong berair yang menurut saya lumayan, tapi belum terlihat ornament yang menarik nih.

Akhirnya sampai di lorong kecil yang sempit karena banyak stalaktit ditambah dengan air yang makin meninggi, untung panitia sudah memasang tali di sisi kanan dinding goa, waw ternyata memang tinggi airnya melebihi tinggi badan saya. Sial saya tidak bisa mendokumentasikannya, padahal banyak ornament yang lumayan, apalagi setelah keluar lorong kecil itu banyak kanopi yang memercikan air…ahh saya tidak foto kanopi-kanopi itu. Entah karena waktunya terburu-buru atau hal lain, panitia menyusuri goa dengan cepat, saya tidak sempat hunting ornament-ornamen untuk di dokumtasikan…ahh sayang sekali. Akhirnya tu kamera saya serahkan ke Yudha karena saya yakin tidak akan sempat foto-foto ornament goa dan lorong yang berair. Hopeless. Saya pun mengikuti panitia, terus menyusuri goa yang airnya makin tinggi dan sangat berlumpur. Kadang kami harus lewat samping atas untuk menghindari air yang sangat dalam, tapi tetap saja saya harus melewati lorong berair yang tinggi airnya lebih tinggi dari saya sehingga saya harus berpegangan pada Yudha.

Dalam Goa Bojong ini, ornament yang dapat dilihat bermacam-macam, ada pilar yang sangat besar, kanopi, stalaktit, teras, dam alami, hingga stalakmit yang masih muda (masih putih). Walau bermacam-macam, ornament-ornamen ini warnanya tidak bagus, umumnya tidak putih (kecuali stalakmit).
Kondisi di dalam goa pun banyak sampah, mungkin sampah rumah tangga masyarakat yang terbawa aliran sungai dan nyangkut di dalam goa. Pada saat melewati celah kecil karena terhalangi dinding goa yang besar, saya mulai merasakan bau-bau guano (yaks..) dan akhirnya saya pun melihat cahaya matahari…mulut goa pun terlihat…sesampainya di mulut goa, kami pun istirahat sebentar di bebatuan sungai.
Saya, Yudha, dan teman lainnya memutuskan lewat jalan darat untuk mencapai base camp, sedangkan Cacing dan salah satu panitia memutuskan backtrack ke dalam goa karena ternyata Fajar dan Rizal (Bramatala) menunggu di dalam, atau karena Cacing ketagihan?

Ahhh…ternyata jalan darat melelahkan sekali, naik turun bukit ditambah dengan lewat pesawahan. Sesampainya di basecamp saya langsung mencari kamar mandi, ternyata semua kamar mandi umum dipakai, terpaksa saya memakai kamar mandi umum di dekat musola yang jaraknya lumayan jauh dari base camp. Selesai mandi dan sekembalinya di base camp, ternyata semua peserta sudah datang dan sibuk packing karena materi latgab telah selesai. Ternyata flysheet merah kami telah dibereskan begitu pun dengan logistic, sudah ter-pack dengan rapi, kecuali boot dan coverall saya. Setelah kami dan anak-anak Bramatala siap, sekitar jam empat kami meningalkan base camp menuju sekre TCC. Rupanya terlambat dua jam dari rencana panitia, panitia merencanakan materi selesai dan peserta bisa pulang jam dua siang, karena ada masalah peralatan yang saling tertukar dan administrasi, kami pun terpaksa menunggu sampai jam empat.

Saat menuju Tasik kota, pada waktu magrib, motor yang ditunggangi Cacing dan Yudha mengalami pecah ban. Saya, Mucin, Onye, Yoga pun turut berhenti dan ikut ke tempat tambal ban. Kebetulan sekali ada warung baso, sekaligus saja menunggu motor sambil makan malam. Jam tujuh malam kami mulai berangkat lagi menuju sekre TCC. Sekitar jam delapan malam kami tiba di sekre TCC, tanpa basa-basi kami langsung pamitan dengan semua peserta dan panitia yang sedang berkumpul disana. Jam setengah sembilan kami (KMPA dan Bramatala) beranjak dari sekre TCC menuju Bandung. Waa…hajar saja lah…karena besok kami harus kuliah. Perjalanan pulang selama kurang lebih tiga setengah jam bersama angin malam dan truk-truk barang berhasil membuat saya tepar, masuk angin, dan demam. Pesan moral: selalu pakai jaket kalau melakukan perjalanan dengan motor. Haha., tapi saya tidak pernah kapok, perjalanan latgab yang menyenangkan walaupun selalu ada kekurangan dan ketidakpuasan. Harapan saya sih, dalam kegiatan caving, etika caving harus dapat disepakati dan dijalankan oleh semua cavers, seperti tidak memegang atau menginjak ornament-ornamen muda yang masih tumbuh, tidak menduduki kanopi, dan tidak meninggalkan sampah di dalam goa karena kita (cavers) harus ikut bertanggung jawab menjaga ekosistem goa yang sensitif. Hoho…!! KMPA….GANESHA….!!