Gua Pawon
Trip Gombong
CATATAN PERJALANAN CAVING DI GOMBONG
Jumat, 26 Maret 2010, kira-kira pukul 10 malam, kita, anak-anak caving yang berjumlah 6 orang ( usie, os, yudha,yoga,muhsin dan nurul) mengadakan perjalanan ke Jawa Tengah, lebih tepatnya kabupaten Gombong, lebih tepatnya lagi kecamatan Ayah. Tujuan kita mengadakan acara ini tak lain dan tak bukan adalah melihat dan lebih mengenal goa. Di kecamatan Ayah ini kita udah masuk ke dalam 2 goa yang cukup terkenal, yaitu goa jemblongan dan goa macan.
Buat pergi ke kecamatan Ayah, butuh waktu kira-kira 8 jam, 7 jam dikereta dari stasiun kiara condong ke stasiun gombong, dan 1 jam nya lagi pakai bis dari gombong ke kecamatan ayah. Kita berangkat dari Bandung jam 10 malem, nyampe di kecamatan ayah kira-kira jam 6 pagi. Cukup menyiksa buat pantat gw yang makin lama makin menipis.hehe. di desa ayah, kita menumpang tinggal di rumah pak RT selama lebih kurang 2 hari 1 malem. Nyampe di desa ayah, kita langsung dihidangkan sarapan, padahal di jalan tadi juga udah sarapan, tapi nggak apa apa, hitung-hitung tambah energi. Hehe. Setelah istirahat dan nyiapin barang-barang buat masuk ke goa sekitar 2 jam, kita berangkat ke goa macan.
Di goa ini, rencananya kita mau SRT-an, karena dari kabar yang kita dengar di goa ini ada goa vertikalnya, panjangnya kira-kira 50 m. Tetapi karena ada satu tragedi yang sama-sama tidak kita inginkan, SRT tidak jadi dilaksanakan. Tapi, ada satu hal yang sangat menarik di dalam goa ini. Ada aula yang gede banget, terus sekitar 50 meter ke bawah ada sungai yang ngalir deres banget. Menurut cerita orang yang pernah ngeliat langsung, dibawah juga ada danaunya. Katanya juga sih, pernah ada yang diving di danau itu. Tapi sayang banget, kita belum bisa liat danaunya, kerena ga jadi SRT. Gw pribadi juga cukup kecewa sih, tapi gak apa apa, ini justru jadi motivasi gw buat balik ke goa itu lagi, buat SRT-an dan ngeliat langsung danaunya.
Setelah beresin alat-alat buat instalasi, Kita keluar dari goa macan, kira-kira pukul 3 siang. Setelah itu, kita istirahat beberapa menit di pondok deket goa sambil ngeliat pemandangan sekitar kota gombong. Abis itu, kita balik ke rumahnya pak RT. Kita langsung mandi dan bersih-bersih alat. Sekitar jam 6 sore, kita makan malam. Nah, abis makan malam kita ngobrol-ngobrol. Yah, sedikit ngegosiplah. Haha. Dan disela-sela gosip, Yoga juga ngeluarin kata-kata “alay”-nya. Ini yang bikin heboh. Haha. Tapi gw juga jadi ketularan dan sering sering ngucapin kata-kata alay, seperti “chups” yang kata Yoga artinya cupu. Hahaha. Emang alay tuh anak. Well, hari ini seru lah.
Hari kedua, kita udah berencana masuk ke goa jemblongan yang kata Yudha yang udah pernah survey kesini didalamnya bagus banget. Buat mencapai goa ini kita harus jalan sekitar 1 km, dengan tanjakan yang lumayan menyiksa. Bener aja kata Yudha, Ini bukan goa horizontal biasa, didalamnya ada sungai yang bagus banget. Gw baru pertama kali ngeliat sungai yang bener-bener gak ada sampahnya kayak gitu. Pokoknya kerenlah. Di dalm goa ini, banyak hal-hal wah yang gak kepikiran sebelumnya. Pas pertama kali ngeliat sungainya, gw gak berasa ada di dalam goa. Gw baru tahu kalo ada goa yang sekeren itu.Stalagtitnya juga masih banyak yang hidup, jadi kita harus jalan super hati-hati biar nggak nyentuh apalagi ngerusak ornamen-ornamen yang ada. Ornamen yang paling gw inget itu adalah batu yang kegantung dan ngeluarin air, kayak shower gitu deh. Itu keren banget. Selain itu juga ada bagian yang kita harus masuk ke dalamnya dengan posisi tiarap, karena sempit dan diatasnya banyak stalagtit yang menggantung. Nah, ternyata goa ini berakhirnya di goa wisata, yaitu goa petruk. Disebut goa petruk gara-gara ada batu yang menyerupai petruk didalamnya. Juga ada yang semar didalamnya.
Dari goa petruk, kita jalan balik ke rumah pak RT, sebenernya gak begitu jauh sih, cuma sekitar 2 km. Tapi karen cuaca yang lumayan panas, perjalanan terasa sangat melelahkan. Setelah jalan sekitar 1 jam, kita pun sampai di rumah pak RT dan langsung packing dan bersih-bersih, kerana takut ketinggalan kereta. Gak lupa sebelum berangkat kita makan siang dulu. Hehe.
Sekitar jam 2 siang kita udah berada di stasiun gombong lagi. Di stasiun, kita juga ketemu sama anak-anak pecinta alam dari stt telkom “ASTACALA”. Perjalanan pulang terasa lebih lama, kita berada dikereta sekitar 8 jam . Sesampainya di bandung waktu telah menunjukkan pukul 11 malam. Untungnya, papa Usie nganterin kita sampai ke ITB, jadi kita nggak perlu ribet-ribet naik angkot.
Perjalanan ke Gombong kali ini sangat seru, ngebuat kita jadi lebih tertarik dan penasaran sama yang namanya goa. Karena banyak hal-hal yang nggak kita duga ada di dalam goa.
Trip Gombong
oleh : Yoga S. Sisminardi (GM-024-XIX)
Penasaran, Berani, Logis
“KMPA!!!…GANESHA...!!” teriakan pertama kami dari "SEL KMPA" ketika akan berangkat menuju Gombong, Jawa Tengah. Tim kali ini terdiri dari 6 orang yakni sang ketua rombongan Mukhsin, gw(yoga), kadiv caving kami, Os, Yudha si sawit, si anak kecil, usi, dan nurul, si pemakan segala.hehehe.....
gw, usi, yudha, dan nurul adalah anggota muda divisi caving. Sebenarnya ada satu orang lagi bernama bimo. Namun dia urung berangkat karena masalah perizinan dan birokrasi yang ribet.
AWAL MULA
Mungkin saat kita mendengar kata Gombong, yang terlintas di benak kita adalah suatu daerah antah berantah yang tidak jelas dan jauh dari peradaban. Tapi ternyata Gombong menyimpan seribu rahasia yang patut dikuak khususnya oleh para caver sejati.
Berawal dari ajakan saudara kita dari ASTACALA, kami tertarik untuk membuka tabir gelap yang menutupi misteri gua di Gombong. Pada saat itu, kebetulan astacala akan mengadakan diklat caving untuk para anggota muda mereka. Entah mendapat wangsit darimana, mereka kemudian mengajak seorang Mukhsin untuk ikut rombongan mereka. Dengan penuh semangat, Mukhsin mengajak anggota caving baru untuk ikut serta. Maklum, baru kali ini cavers muda KMPA berjumlah 5 orang. Tentu saja, dengan senang hati kami mengangguk-anggukkan kepala tanda sepakat. Akhirnya diputuskan tanggal 19 Maret kami semua berangkat bareng astacala. Semua persiapan menuju spot dipersiapkan matang-matang. Namun, menjelang keberangkatan, kami mendapat berita bahwa astacala tidak bisa membawa serta kami semua karena terlalu banyak orang yang ikut. Astacal sendiri telah membwa anggota muda yang cukup banayk. Akhirnya rencana pun diubah. Hanya Mukhsin dan Yudha yang berangkat bersama mereka. Rencana yang dipersiapkan, mereka berdua ikut untuk survey dan kemudian minggu depan barulah kita berangkat sendiri.
GOMBONG TRIP
Akhirnya, saat yang kita tunggu-tunggu tiba juga. Jumat, 26 Maret 2010 kira-kira jam 9 malam tim berangkat menuju Gombong. Agar tidak kehabisan tiket kereta api, gw berangkat lebih dulu untuk membeli tiket. Menunggangi "belalang tempur" milik om Sigit dengan diantar Rachman, langsung menuju stasiun Kiaracondong. Cukup heran, ternyata "belalang tempur" itu sangat tangguh untuk melintasi jalanan kota Bandung yang penuh "jebakan". Tak lama kemudian, kawan-kawan yang lain menyusul dan kami pun bertolak menuju gombong sekitar jam 10 malam.
Pukul setengah 6 pagi kami turun dari kereta di stasiun Gombong. Setelah beberapa saat melepas penat, kami melanjutkan perjalanan ke kantor PERHUTANI di Gombong untuk mengambil surat ijin. Kemudian kami mencari sesuap nasi untuk mengisi perut kami yang kosong. Lokasi gua tepatnya terletak di kecamatan Ayah. Untuk menuju kesana, kami menggunakan moda transportasi bernama bis selama kurang lebih 1 jam perjalanan. Sampai di Ayah, perjalanan masih cukup terjal, dalam arti sebenarnya. Turun dari bis, kami harus berjalan kaki menuju rumah pak RT, Pak Saji. Jalan berbatu dan terjal harus kami tempuh. Perjuangan yang cukup melelahkan. Untungnya, sampai disana kami langsung disuguhi minuman pelepas dahaga berupa teh dan beberapa jajanan. Setelah beristirahat sejenak, kami langsung mempersiapkan perbekalan dan alat-alat untuk explorasi gua macan. Gua ini, menurut pak Saji cukup terkenal dan sering dikunjungi oleh caver-caver dari seluruh penjuru Indonesia. Membuat kami semakin penasaran seperti apa rupa gua vertical ini. Setelah semua siap dan briefing sejenak, kami diantar oleh pak Saji menuju gua.
MACAN CAVE EXPLORATION
Mulut gua ternyata cukupm sempit sehingga kami harus berjalan jongkok untuk bisa masuk. Sekitar 5 meter ke dalam, chamber gua cukup luas. Dengan leluasa kami menyusuri gua tersebut. Tidak ada hal yang menarik dari dalam gua ini karena gua ini sudah mati aliran airnya. Ornamen-ornamen yang ada tergolong biasa-biasa saja. Hanya di beberapa tempat kami temukan ornamen yang cukup indah yang sempat diabadikan oleh si anak kecil, usi. Sampai pada akhirnya kami sampai pada salah satu bagian gua yang paling indah. Di tempat ini, gua menemukan ujungnya.
THE TRAGEDY
Ternyata, memang pengalaman adalah guru yang terbaik. Pengalaman dan jam terbang yang kurang, hampir menyebabkan jatuh korban. Os yang baru beberapa meter turun ke bawah mendadak berteriak. Suara seperti ada sesuatu yang pecah membuat aku terbangun dari tidurku. Dalam kekhawatiran takut terjadi apa-apa, aku menerka-nerka, apa yang terjadi. Ternyata batu yang digunakan untuk memasang anchor pecah. Untung masih ada back-up sehingga Os tidak terjun bebas ke dalam lubang yang gelap itu.
Dengan tenang Mukhsin memberiakn instruksi-instruksi kepada Os untuk naik kembali. Akhirnya, dengan kerja keras Mukhsin dan Os, Os dapat kembali naik ke permukaan. Sungguh saat-saat yang sangat mencekam. Untunglah, semua selamat. Dalam situasi seperti itu, Mukhsin memutuskan untuk menghentikan explorasi hari itu. Diakuinya, mentalnya sudah tidak cukup kuat untuk melanjutkan SRT. Kecewa, memang. Tapi begitulah keadaannya. Justru kejadian tersebut menguatkan motivasi kami untuk kembali ke gua itu dengan membawa skill yang mumpuni agar penelusuran berikutnya bisa lebih optimal. Sambil menenangkan hati dan pikiran, kami beranjak pulang menuju rumah pak Saji. Sampai disana kami membereskan peralatan dan segera beranjak tidur untuk menyimpan energi buat esok hari. Dalam pikirku, ah, tak apalah hari ini kami gagal SRT di gua macan. Masih ada hari esok untuk explorasi gua lain yang tak kalah menarik. Toh, dari kejadian hari pertama, kami belajar banyak.
SECOND DAY IN GOMBONG
Pagi hari yang cerah membangunkan tidur kami yang nyenyak. Segera aku membersihkan muka dan bersiap sholat subuh. Baru membayangkan makan enak pagi itu, eh ternyata di meja telah tersaji makanan yang telah disiapkan oleh pak Saji. Tanpa kompromi dan basa-basi, langsung kami lahap makanan yang ada di meja. Terutama Nurul, si anak Padang, makan dengan hebatnya. Di angkatan KMPA XIX ini, Nurul memang terkenal karena nafsu makannya yang luar biasa. Puas dengan sarapannya, kami tak sabar untuk segera bersiap menuju penelusuran gua berikutnya. Semua persiapan berjalan dengan baik, segera pak Saji ikut mengantar kami ke gua Jomblang.
Pak Saji hanya bisa mengantar kami hingga mulut gua saja karena beliau harus mengantarkan anaknya ke terminal karena hendak pulang ke Sumatra. Perjalanan di hari kedua ini ternyata cukup dapat mengobati rasa kecewa kami di hari pertama. Semakin dalam kami telusuri, semakin banyak keindahan yang tersingkap. Kami pun semakin menikmati explorasi kali ini karena gua kali ini berair.
Jadilah kami berenang-renang sambil menikmati keindahan ornamen-ornamen yang seperti ingin menunjukkan kemolekannya pada mata kami. Rasa syukur langsung terucap dari dalam hatiku saat itu. Subhanallah, Maha Besar Allah denga segala ciptaannya. Tak ingin hanya bermain-main saja, kami saat itu juga sempat mencoba mempelajari teknik-teknik fotografi di gua. Cukup sulit membuat foto yang indah di dalam gua mengingat cahaya dalam gua yang sangat minim. Tak lupa pula kami foto-foto bersama untuk mengabadikan momen-momen indah saat itu. Setelah dirasa cukup dan karena memang waktu sudah mepet, kami melanjutkan penelusuran hingga akhirnya, benar kata pak Saji, kami keluar di gua petruk. Mengingat keesokan harinya kami harus melanjutkan kehidupan di ITB, kami tak ingin ketinggalan kereta. Setelah berpamitan dan berfoto dengan pak Saji dan ibu, segera kami pulang menuju peradaban dan kembali ke rutinitas sehari-hari. . . . .
Penasaran, Berani, Logis
Bandung, 24 April 2010
Pemetaan Cikaracah
20-21 Maret 2010
Oleh: Usie Fauzia A. (GM-022-XIX)
Perjalanan ini dilakukan karena sebenarnya kami benar-benar ngebet ingin caving dan rencana awal ke Gombong tidak jadi karena dua orang teman kami, Muhsin dan Aji, ada ujian, maka muncullah ide untuk caving di Padalarang. Rencana ini benar-benar mendadak, bahkan pada malam tanggal 19 Maret belum ada kepastian pergi ke Padalarang. Akhirnya saya inisiatif menanyakan anak-anak caving GL XIX untuk melakukan perjalanan ini dan ternyata kepastian yang ikut caving kali ini baru muncul jam dua siang hari-H (tanggal 20 Maret tepatnya hari Sabtu). Sekitar jam setengah lima sore saya baru sampai di sel (janji kumpul sebenarnya jam tiga sore). Jam enam sore saya, Yoga, Yudha, Bimo, Muhsin, dan Aji berkumpul di sel untuk membicarakan teknis lapangan dan logistik (waw baru dibicarain sekarang…?) dan akhirnya perjalanan caving sekarang kami akan memetakan Goa Cikaracak.
Sekitar jam delapan malam kami (saya, Yoga, Yudha, dan Muhsin) berangkat dari sel menuju Padalarang, tapi sebelumnya mampir ke swalayan dulu untuk beli makanan. Haha pelajaran pertama buat kami, GL baru khususnya, jangan buat teklap pas hari-H. Gara-gara mendadak kami cukup kerepotan dengan duit untuk beli bahan makanan (padahal bahan makanan kaya beras, garam, dan teman-temannya bisa didapat gratis dari rumah saya) dan tiba-tiba Yudha sadar bahwa kami lupa bawa tenda (sebenarnya tenda sudah disiapkan sama Bimo tapi lupa dimasukin ke kerir haha..). Parah, dengan modal nekat dan keyakinan bahwa malam ini tidak hujan, kami benar-benar berangkat ke Padalarang dengan menggunakan motor.
Jam 10-an kami sampai di basecamp, masih termasuk karst citatah, kebon dengan batu-batu kapur raksasa. Disanalah kami bakar-bakaran ayam (untung cuma berempat haha) dan tidur beralaskan ponco beratapkan langit karena kami lupa bawa tenda. Hari Minggu tanggal 21 Maret 2010, kami bangun pukul 06.00. Setelah solat dan ritual pagi Muhsin, kami mulai masak dengan menu nasi goreng dan martabak mi (untung cuma berempat jadi jatahnya banyak). Langsung go chao ke rumah si ibu(saya ga tau namanya map) buat siapian alat-alat dan pake coverall. Yah karena persiapan yang tidak matang, coverall yang ukurannya kecil tidak terbawa jadi saya pakai yang ukurannya kebesaran untuk badan saya. Berangkatlah kita ke Goa Cikaracak, yah bersakit-sakit dahulu lah untuk mencapai ke sana harus jalan kaki yang lumayan jauh apalagi sepatu boot saya kebesaran dan itu tidak nyaman bagi saya (dilemma berbadan kecil). Untuk mencapai ke mulut goa, kami harus turun kebon karena lokasi goa nya di bawah dan di sela-sela kebon.
Sebelum masuk, kami diberi materi oleh Saudara Muhsin, ternyata pemetaan yang akan kami lakukan sekarang tidak semudah pemetaan yang pernah dilakukan di Goa Lalay pada jaman Diksar GM dulu. Kami diajarkan memetakan aula juga. Untuk pemetaan kali ini, saya berperan sebagai descriptor, Yoga dan Yudha sebagai shooter dan stasioner (mereka sering tukeran peran). Sulit juga yah jadi descriptor, berhubung saya suka bengong dan bingung, saya sering ketinggalan data karena Yoga dan Yudha cepat sekali memetakannya. Kami tergolong lama memetakan goa nya, belum seluruh bagian goa kami petakan. Kami hanya memetakan sampai aula pertama karena ternyata butuh adaptasi untuk memetakan goa hingga lancar, juga butuh kerjasama dan konsentrasi juga buat saya, berhubung suasana goa bikin saya ngantuk dan gampang bengong.
Tidak terlalu sulit untuk memasuki goa ini, hanya beberapa turunan dan langit-langit goa nya yang lumayan rendah jadi kami harus berjalan jongkok hingga bertemu ornament besar kemudian turun ke aula, keadaan goa nya tidak basah, hanya tanah yang berlumpur membuat kami sulit berjalan dan boot saya sering copot karena sulit diangkat dan kaki saya yang terlalu kecil. Karena pemetaan dia aula lama sekali, saya pun menikmati mengambil foto ornament-ornamen goa saya masih belum menemukan flowstone yang menarik, hanya terdapat ornament-ornamen yang bentuknya menyerupai hewan-hewan.
Setelah selesai memetakan aula, kami pun makan siang di sana dan karena sudah jam dua siang kami pun menyudahi pemetaan sampai di sini saja. Waw ternyata lama juga kami di dalam goa dan seperti biasa cahaya matahari tidak pernah jadi begitu dirindukan kecuali oleh kami, para penelusur goa. Yeah day light…!
Setelah keluar dari goa, kami bergegas kembali ke rumah si ibu karena cuaca mendung dan gerimis. Sekitar jam tiga sore kami pergi ke daerah dekat Sungai Citarum, tapi ternyata waduknya jebol dan kami tidak jadi main ke sana, akhirnya kami memang harus balik ke kampus dan sekitar jam setengah tujuh malam kami sampai di kampus dan langsung menunaikan kewajiban kami yaitu cuci-cuci alat yang penuh dengan lumpur.
Perjalanan yang menyenangkan bagi saya apalagi dengan teman-teman caver yang aneh-aneh sifatnya membuat saya ingin caving lagi diberbagai goa yang pasti diluar ekspektasi saya. SEMANGAT…!


