Berawal dari keinginan untuk menjelajahi lebih banyak lagi goa-goa di Indonesia, kami divisi Caving KMPA ‘G’ ITB yang terdiri dari saya(Yoga), Nurul, Usi, dan Yudha mengadakan perjalanan ke Goa Pawon. Kegiatan kali ini lebih dititikberatkan untuk melatih skill kami dalam memasang rigging di dalam goa. Menurut para pendahulu, Goa Pawon sangat cocok untuk berlatih rigging. Kami berharap setelah perjalanan ini, skill rigging kami bertambah sehingga kemampuan eksplorasi goa kami pun meningkat. Kali ini, anggota G KMPA yang diberi kehormatan untuk ikut menemani kami adalah Affan. Setelah persiapan yang cukup melelahkan akhirnya Tim berangkat dari SEL pada tanggal 27 Juli 2010 pagi.
Selasa pagi, pagi yang sangat cerah saat itu, menambah semangat kami untuk berkegiatan. Tim yang terdiri dari 5 orang telah siap baik fisik, logistik, maupun mental untuk berangkat ke Goa Pawon. Semua telah dipersiapkan dengan matang. Doa telah dipanjatkan, motor telah disiapkan. Namun kami menyadari bahwa tim yang terdiri dari 5 orang tersebut hanya 2 orang yang sanggup mengendarai motor. Mau tak mau harus ada 1 orang yang menggunakan moda transportasi lain, yaitu kereta. Akhirnya diputuskan 3 orang naik motor dan 2 orang naik kereta dari Stasiun Bandung menuju Stasiun Padalarang. Yudha dan Nurul mengalah untuk naik kereta. Rencananya mereka berdua setelah sampai di stasiun melanjutkan perjalanan naik angkot kuning yang ada di Padalarang kemudian berhenti di depan pintu gerbang Goa Pawon. Disana meraka menunggu sejenak untuk kemudian dijemput menggunakan motor menuju Goa Pawon. Jam 8 pagi, tim kereta berangkat terlebih dahulu. Awalnya kami sempat panik, karena menunggu Nurul yang tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Kami tak mau rencana kami jadi berantakan karena terlambat naik kereta. Setelah cukup lama ditunggu, akhirnya Nurul dengan berlari-lari datng ke sel, membuat kami semua lega. Nurul dan Yudha pun langsung bergerak menuju stasiun tanpa upacara keberangkatan terlebih dahulu, padahal saya, Usi, dan Affan sudah menunggu lama. Tapi ya sudah, akhirnya hanya kami bertiga yang berkumpul di depan sel, berdoa, dan meneriakkan, “KMPA, Ganesha!”
Sudah tak sabar kami ingin segera sampai disana. Dengan perut keroncongan karena belum sarapa, kami bertiga melesat secepat kilat dengan motor. Sebelum ke Goa Pawon, kami mampir ke rumah Budi terlebih dahulu. Budi adalah seorang kawan kami yang rumahnya tak jauh dari tebing Citatah 125. Dia ikut sebagai trainer bersama Nda. Sampai disana, Budi langsung kami bawa melesat menuju Goa Pawon. Di Goa Pawon, sejenak kami beristirahat, meregangkan otot-otot kami setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Saya dan Budi kemudian bergerak turun menuju rumah Pak RT ntuk meminta ijin. Setelah berbincang-bincang, kami berdua kembali menuju camp. Tak menunggu lama, kami berempat langsung bergerak ke Goa Pawon. Survey sejenak kita lakukan dan tak diduga, kami bertemu mapala dari IT Telkom, Astacala. Mereka ada 5 orang namun meraka tidak caving, melainkan akan climbing disekitar Goa Pawon.
Selesai mendirikan tenda, ternyata ada 1 masalah lagi yang menghadang. Si Nda, trainer kita, belum datang. Rencananya salah seorang dari kami bergerak untuk menjemput di rumahnya. Tapi ternyata rumahnya cukup jauh. Saat itu pula, pagi yang cerah itu berubah menjadi mendung. Hujan pun tak terhindarkan. Cuaca yang tak mendukung itu membuat kami hanya bias berdiam diri. Latihan tidak dapat kami lakukan karena Nda belum datang. Hujan yang cukup deras juga menghalangi kami untuk rigging karena tidak safety. Menunggu dan menunggu, hujan tak kunjung reda. Tak mau berhenti karena hujan, saya pun menghubungi salah seorang teman Nda, yaitu Depi. Saya berharap Depi dapat mengantar ke rumah Nda. Dengan berhujan-hujan saya sampai di rumah Depi di daerah belakang tebing Citatah 125. Karena satu dan lain hal, jam 4 sore kami berdua baru bisa bergerak menjemput Nda. Cukup jauh memang ternyata rumah Nda. Dengan menyesal, kami baru tiba di Goa Pawon lagi jam 6 sore. Itupun tanpa membawa Nda. Nda baru dapat menemani kami keesokan harinya. Alhasil, kegiatan hari itu berakhir begitu saja, tanpa kegiatan di goa Pawon. Malam harinya, kami hanya melakukan sedikit evaluasi dan briefing untuk keesokan harinya.
Hari kedua kami di Pawon, kami awali dengan beres-beres, cuci-cuci, dan masak. Tugas-tugas itu telah dibagi. Jam 8 pagi kami semua telah selesai makan dan persiapan untuk latihan hari itu. Namun latihan belum dapat dimulai sebelum Nda datang. Tak lama, Nda muncul. Langsung kami bergegas menuju aven Goa Pawon untuk mencoba rigging. Kali ini, saya berkesempatan untuk menjadi leader. Latihan dimulai dengan memasang pengaman-pengaman di sekitar mulut goa dan memasang anchor utama. Cukup lama saya memasang alat-alat tersebut, maklum baru pertama kali mencoba rigging sendiri. Setelah dirasa cukup kuat dan aman, saya turun dengan membawa tali. Sebagai leader, saya harus turun dari mulut goa ke bawah sambil mengulur tali untuk membuat lintasan. Ditengah perjalanan saya menuruni liang goa, saya menemukan pitch. Untuk menghindari friksi tali dengan batu, saya membuat tambatan baru. Semua berjalan lancar hingga saya mencapai dasar goa. Latihan ini membuat saya cukup mengerti cara-cara rigging di dalam goa. Saya mendapat banyak pelajaran dari latihan ini.
Lintasan yang telah selesai saya buat digunakan Nurul untuk turun. Sampai dibawah, Nurul bertugas sebagai cleaner, tugasnya naik kembali ke atas sambil menggulung tali. Ceritanya, setelah Nurul sampai diatas dilanjutkan Yudha dan Usi yang turun sebagai leader dan cleaner. Namun ternyata Nurul membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan tugasnya. Kendalanya adalah karena memang medan goa yang cukup sulit dan baru pertama kali juga, Nurul mencobanya. Berat tali yang harus dibawa pun memperlambat pergerakan Dia. Sore hari sekitar jam 16.30, Nurul berhasil mencapai mulut goa. Hari sudah mulai gelap saat itu. Cuaca pun tiba-tiba saja kembali memburuk. Hujan deras lama mengguyur. Dengan pertimbngan safety, akhirnya diputuskan untuk mengakhiri kegiatan hari itu. Yudha dan Usi yang belum sempat merasakan latihan hari itu, cukup kesal dengan kejadian hari itu. Tanpa basi-basi Usi langsung pergi menuju camp. Hari itu, hanya saya dan Nurul yang latihan.
Malam harinya, evaluasi paling banyak adalah Usi dan Yudha yang belum sempat mencoba latihan. Padahal, esok pagi mereka berdua harus pulang ke Bandung karena ada keperluan. Esok paginya, saya mengantar Usi dan Yudha ke stasiun. Jam 7 saya kembali ke camp Goa Pawon. Hari itu kami habiskan untuk berlatih pemanjatan artificial dan panjat tebing. Sore harinya kami putuskan untuk kembali ke Bandung.
Yoga Saktyanto S
GM-024-XIX
KMPA ’G’ ITB

Tidak ada komentar:
Posting Komentar